- Kolase Tvonenews.com
Nyalinya Boleh Juga, John Kei Tak Kalah Nekat dengan Hercules, Ternyata Asal-usul sebagai Preman Dimulai di Sini
tvOnenews.com - Nama John Kei pernah begitu dikenal di dunia kriminal Ibu Kota.
Sosok yang kerap dijuluki “Godfather Jakarta” ini memiliki perjalanan hidup panjang yang penuh lika-liku, bahkan sejak usia muda.
Kisahnya kerap disandingkan dengan tokoh lain seperti Hercules yang juga dikenal sebagai figur kuat dari kawasan Tanah Abang.
Perjalanan hidup John Kei bukanlah cerita yang sederhana.
Ia lahir dengan nama lengkap John Refra pada 10 September 1969 di Maluku Tenggara.
Berasal dari keluarga sederhana, masa kecilnya diwarnai dengan berbagai keterbatasan.
- tangkapan layar youtube kick andy
Dalam sebuah wawancara yang dikutip dari kanal YouTube Kick Andy Show, ia mengenang latar belakang keluarganya yang hidup sebagai petani.
"Saya lahir di Maluku Tenggara, di Kei. Saya lahir dari keluarga petani, bapak saya petani, ibu saya petani," ujar John Kei.
Sejak kecil, kehidupan yang dijalaninya tidak lepas dari kerasnya lingkungan.
Ia mengaku sudah terbiasa dengan perkelahian bahkan sejak masih duduk di bangku sekolah.
"Masa kecil saya, saya sekolah di Kei. Sepulang sekolah senior-senior kita pasti adu kita untuk berantem," kenang John Kei.
"Jadi saya sejak kecil sudah hobi berkelahi," tambahnya.
Kebiasaan tersebut perlahan membentuk karakter keras dalam dirinya.
Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga yang serba terbatas turut mendorongnya untuk mengambil keputusan besar di usia muda.
"Saya waktu umur 18 tahun, saya nekat saya harus keluar dari kampung, dan saya harus kembali ke kampung," ungkapnya.
- Kolase tvOnenews.com
Keputusan merantau menjadi titik awal perjalanan panjangnya.
Dalam perjalanannya, ia sempat mengalami berbagai kejadian sulit, termasuk saat harus melarikan diri dan menumpang kapal menuju Surabaya.
Namun, perjalanan itu tidak berjalan mulus. Setibanya di kapal, ia dihadapkan pada situasi yang tidak mudah karena tidak memiliki tiket.
Akibatnya, ia harus bekerja sebagai imbalan agar tetap bisa melanjutkan perjalanan.
"Akhirnya disuruh kerja membersihkan kapal," ujarnya.
Setibanya di Surabaya, kehidupan yang dijalani pun masih jauh dari kata nyaman.