- Istockphoto
Memangnya Boleh Puasa Ikut NU, Lebaran Muhammadiyah? Ini Jawaban Fikih + Hasil Sidang Isbat 2026
Sementara itu, Muhammadiyah menetapkan Idulfitri lebih awal, yakni Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab yang konsisten mereka gunakan.
Dari berbagai penjelasan ulama dan ahli fikih, dapat disimpulkan bahwa menggabungkan metode sebenarnya diperbolehkan selama jumlah hari puasa tetap terpenuhi, yakni 29–30 hari.
Namun, praktik ini tidak dianjurkan karena berpotensi menimbulkan inkonsistensi dan keraguan dalam ibadah.
Pendekatan paling aman adalah mengikuti satu metode secara utuh, baik hisab maupun rukyat.
Jika sejak awal mengikuti Muhammadiyah, maka sebaiknya hingga Lebaran tetap konsisten dengan hisab. Begitu juga jika mengikuti NU atau pemerintah, maka gunakan metode rukyat hingga akhir.
Pada akhirnya, tujuan utama puasa bukanlah mencari yang paling cepat atau paling mudah, melainkan menjalankan ibadah dengan keyakinan, ketenangan, dan sesuai tuntunan syariat.
Perbedaan metode sendiri merupakan bagian dari ijtihad ulama yang harus disikapi dengan bijak dan penuh toleransi. (udn)