- Instagram/@rhoma_official
Jawaban Mengejutkan Rhoma Irama saat Ditanya soal Kemelut Konflik Iran Vs AS-Israel, Bicara Dunia dan Akhirat
Jakarta, tvOnenews.com - Raja dangdut Rhoma Irama ditanya tentang eskalasi konflik Iran versus Amerika Serikat (AS) bersama Israel. Dampaknya secara global akibat ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Mengenai hal ini, Rhoma Irama membicarakan situasi di tengah ketegangan eskalasi di Timur Tengah. Ia membahas ini saat ditanya awak media di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (2/3/2026).
Menurutnya, kemelut konflik ini harus dilihat dari dinamika dunia. Fenomenanya tidak sekadar dari secara nyata, tetapi wajib menanamkan sudut pandang dari sisi spiritual.
Rhoma Irama berpendapat, gejolak konflik ini sudah menjadi bagian dari karakter dunia. Dalam agama Islam, dunia hanya sebagai perantara dan sifatnya fana.
"Dunia ini permainan dan senda gurau. Dunia ini kehidupan yang semu," ujar Rhoma Irama dikutip, Selasa (3/3/2026).
Rhoma Irama Bicara Dunia dan Akhirat dalam Menyikapi Konflik Iran
- Instagram/@rhoma_official
Raja dangdut di Tanah Air itu memahami ketegangan antara Iran dan AS-Israel tidak hanya berdampak pada global, tetapi juga potensi memunculkan perang dunia ketiga.
Selain itu, eskalasi di Timur Tengah juga sangat dirasakan masyarakat Indonesia. Mulai dari banyak warga negara Indonesia (WNI) dikabarkan terjebak akibat Iran kontra AS-Israel.
Mereka berada di luar negeri harus tertahan dan tidak bisa kembali ke Indonesia. Sebab, banyak penutupan wilayah udara hingga jadwal penerbangan batal massal di beberapa negara di Timur Tengah.
Kemudian, WNI di luar negeri termasuk Timur Tengah cemas terhadap keselamatannya. Di sisi lain, konflik tersebut juga berdampak pada perekonomian hingga sejumlah faktor lainnya terhadap Indonesia.
Namun Rhoma Irama menyikapinya dengan santai. Bagi penyanyi dangdut berusia 79 tahun itu, akhirat menjadi titik akhir dari kehidupan di dunia.
Di akhirat, kata Rhoma Irama, menjadi tempat sesungguhnya kehidupan. Mereka akan mendapat kemenangan hingga kebahagiaan setelah melalui proses panjang di dunia.
"Kalau di sini cuma la'ibun walahwun, main-main saja," imbuhnya.
Terkait dampak musibah dari konflik antarnegara terhadap Tanah Air, Rhoma Irama justru mengingatkan bagaimana caranya menerima takdir.
Konflik antara Iran dengan AS, Israel, dan Barat sudah menjadi bagian dari ketetapan Ilahi. Artinya, eskalasi tersebut telah diatur dalam Lauhul Mahfudz.
Ia menambahkan, ketetapan ini tidak sekadar pada konflik antarnegara, namun berlaku untuk seluruh bencana terjadi di muka bumi yang berdampak pada manusia hingga makhluk hidup lainnya.
Pelantun lagu Begadang ini menyampaikan hal tersebut bukan untuk menakut-nakuti. Ia justru menekankan agar setiap manusia selamat di akhirat kelak.
"Allah itu Maha Tahu apa yang akan terjadi. Tujuannya supaya kamu tidak terlalu sedih dengan apa yang terjadi pada kamu. Kita tidak terlalu membanggakan diri ketika kamu mendapatkan sesuatu yang baik dari Tuhan," jelasnya.
Kapasitas Manusia Tidak Bisa Melampaui Ketetapan Takdir
- ANTARA/Anadolu/py/am.
Lebih lanjut, ia membicarakan tentang kapasitas manusia. Apalagi dalam urusan menghadapi hingga dihantam ujian dunia secara bertubi-tubi.
Menurutnya, ujian dunia justru menjadi tantangan besar. Ia menegaskan, segala cobaan harus dilewati karena dalam kehidupan terdapat istilah sebuah "permainan" besar.
Ia menegaskan, dari kehidupan di dunia menjadi penentu nasib manusia di fase akhir, yakni Akhirat. Namun untuk melewati itu, mereka mendapat ujian seberapa jauh keimanannya di fase awal.
"Jadi, memang hidup ini adalah permainan. (Istilahnya) life is a game. Hidup ini cobaan dan ujian, di mana pun kamu berada, apa pun kapasitasmu, pasti itulah ujian-ujiannya," paparnya.
"Karena life is a game, pemenangnya akan happy dunia akhirat. Sementara, pecundangnya akan menderita dunia akhirat," tukasnya.
Sebelumnya, AS dan Israel melancarkan serangan rudal secara tiba-tiba. Serangan melalui udara tersebut mengakibatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei syahid di kantornya pada 28 Februari 2026 pagi hari waktu setempat.
Presiden AS, Donald Trump mengumumkan kematian Ali Khamenei. Ia menyampaikan hal tersebut melalui sejumlah platform media sosialnya.
Kabar Ali Khamenei telah gugur juga dikonfirmasi beberapa media Iran dan internasional, termasuk presenter televisi resmi Nasional Iran.
Motif AS-Israel membunuh Ali Khamenei lantaran Iran dituduh terus mengembangkan status pengembangan program nuklir. Upaya itu dinilai membahayakan keamanan dunia.
Padahal negosiasi program nuklir antara Iran dan AS mulai menemukan titik terang. Pertemuan itu yang akan digelar di Jenewa berakhir buntu.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) membalas serangan tersebut pasca Pemimpin Tertinggi mereka tiada. Hingga kini, Iran terus membombardir sejumlah wilayah Israel hingga pangkalan militer AS yang terparkir di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.
(hap)