news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi - Kerokan.
Sumber :
  • Istimewa

Kerokan Bukan Budaya Asli Indonesia, Ternyata Telah Dikenal dari Abad ke-5 di Negara Ini

Tahukan kamu, kerokan yang kerap dilakukan masyarakat Indonesia sebagai alternatif pengobatan, ternyata bukan asli budaya Indonesia
Minggu, 10 Maret 2024 - 13:00 WIB
Reporter:
Editor :

Meredakan Masuk Angin

Kerokan diyakini sebagai terapi yang mujarab untuk menghilangkan angin dari dalam tubuh, meski dalam dunia kedokteran istilah masuk angin tidak dikenal, namun gejala kerap dirasakan.

Manfaat lainnya yang dirasakan saat masuk angin melakukan kerokan diantaranya, meredakan pegal-pegal atau sakit otot. 

Meredakan Ketegangan Otot Leher dan Bahu

Kerokan juga dapat dipercaya meredakan ketegangan otot di sekitar leher dan bahu. Biasanya ketegangan otot terjadi karena banyaknya aktivitas di depan layar komputer.

Kemampuan kerokan menghilangkan ketegangan otot juga telah dilakukan penelitian dan dipublikasikan di jurnal Archives of Allied Medical Sciences. Studi tersebut mengungkapkan jika dua kelompok orang yang merasakan ketegangan otot diberi terapi kerokan dan tidak.

Hasilnya, mereka yang mendapat terapi kerokan merasakan rasa sakit berkurang dan dapat melakukan gerakan memutar leher

Meringankan Gejala Perimenopause

Perimenopause merupakan masa transisi yang dialami seorang wanita menjelang menopause. Gejala yang dialami berupa Insomania, merasa lelah dan merasakan tubuh bagian atas merasa panas.  Melakukan kerokan dapat meredakan gejala yang dilami. 

Mempercepat pemulihan otot

Manfaat kerokan dapat membantu menjaga kebugaran dan kondisi khususnya atlet agar tetap prima. Klaim tersebut didapat dari sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2017 dan dipublikasikan di Journal of Traditional Chinese Medicine.

Mengurangi Peradangan Akibat Hepatitis B

"Hepatitis B adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan inflamasi, kerusakan, dan luka pada hati. Beberapa percaya bahwa kerokan bisa membantu meredakan peradangan hati kronis. Namun, hal ini memerlukan penelitian lebih lanjut sebelum diakui sebagai bagian dari terapi yang disarankan dalam praktik medis." (mii)
 

Berita Terkait

1
2
Tampilkan Semua

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:18
01:01
01:52
05:54
07:49
05:37

Viral