- Dok. Fakhri Zakaria
Lokananta Berbenah dengan Wujud Kekinian dan Semangat Militan
Penggandaan lagu-lagu daerah dari 49 stasiun RRI di seluruh Indonesia menjadi tugas awal Lokananta. Saat awal beroperasi, Lokananta hanya dijalankan oleh lima orang pegawai yang diperbantukan dari RRI Surakarta termasuk Oetojo yang merangkap sebagai Direktur Lokananta dan Soegoto sebagai Kepala Teknis Produksi.
Sebelum Lokananta, sudah ada perusahaan rekaman di Indonesia yang lebih dulu eksis. Antara lain Mesra dan Remaco. Namun Lokananta adalah perusahaan rekaman pertama di Indonesia saat itu yang memiliki mesin produksi master moulding atau pembuat cetakan untuk piringan hitam. Mesin ini menjadi titik tolak perkembangan industri rekaman di Indonesia.
Kebutuhan memproduksi konten lokal semakin mendesak setelah larangan musik "ngak ngik ngok" oleh Soekarno muncul di Manipol 1959.
Ia gerak cepat, seluruh pengurus stasiun RRI dari Sabang-Merauke diberikan arahan untuk menyetor lagu-lagu daerah mereka untuk kemudian direkam lalu digandakan piringan hitamnya di Lokananta untuk kemudian didistribusikan kembali ke RRI seluruh Indonesia.
Apa mungkin karena kisah sukses bersama Lokananta ini Maladi melesat di karier politiknya sebagai menteri penerangan dan menteri pemuda dan olahraga era Seokarno?
Sebuah kotak besi pengantar piringan hitam masih bisa kamu nikmati bersama beberapa benda peninggalan pabrik piring hitam lainnya juga ditata apik di sana, di galeri Lokananta, yang segera akan menjadi museum.
Ada studio rekaman berukuran besar yang pada masa itu banyak mencetak karya-karya maestro gamelan hingga musik populer saat itu masih dioperasikan. Dipertahankan peruntukannya untuk memproduksi musik.
Di dalam studio itu, ada mixer analog Trident, London series 80 B yang hanya ada dua di dunia. Satu lagi berada di BBC London.
Galeri studio Lokananta. (Dok.Fakhri Zakaria)
Bing Slamet, Sam Saimun, Gesang, Waldjinah, Buby Chen, Titiek Puspa, Aneka Nada, hingga Glenn Fredly, White Shoes and The Couoples Company, dan Pandai Besi sudah menjajalnya.
Lokananta kini wajahnya berubah lebih kekinian. Namun bangunan utama tetap dipertahankan. Hanya kolam air mancur bergaya klasik yang dulu juga dipakai untuk mencuci piringan hitam dari bahan kimia, tergantikan oleh kolam air overflow sebagai penanda zaman menjadi Lokananta Baru.