news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Dokter tengah mengukur lingkar badan Balita.
Sumber :
  • Istimewa BKKBN

Kasus Tuberkulosis (TBC) & Stunting di Indonesia Mengkhawatirkan

Indonesia tengah dalam kondisi genting, Pasalnya penderita penyakit tuberkulosis (TBC) mencapai 824 ribu kasus dengan angka kematian 93 ribu setiap tahunnya. Angka ini menempati peringkat ketiga setelah India dan China.
Minggu, 27 Maret 2022 - 10:47 WIB
Reporter:
Editor :

Kulon Progo, DIY – Indonesia tengah dalam kondisi genting, Pasalnya penderita penyakit tuberkulosis (TBC) mencapai 824 ribu kasus dengan angka kematian 93 ribu setiap tahunnya. Angka ini menempati peringkat ketiga setelah India dan China.

"Data yang merujuk Global TB Report 2021 ini  menjadi “alarm” karena setiap jam-nya di Indonesia, ada 11 kematian akibat TBC," seperti dikutip tvonenews.com dari siaran pers BKKBN

TBC  merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Tuberkulosis sendiri dapat menyerang bagian tubuh manapun, tetapi yang paling umum adalah infeksi tuberkulosis pada paru-paru.

Penyebaran penyakit ini dapat terjadi melalui percikan air ludah dari pasien TBC, batuk atau bersin orang-orang yang berada di dekat pasien tersebut. Walaupun biasanya menyerang paru-paru, tetapi penyakit ini dapat mengenai tubuh lainnya, seperti sistem saraf pusat, jantung, kelenjar getah bening, dan lainnya.

Seseorang yang menderita TBC harus minum obat secara teratur dan lengkap selama minimal 6 bulan. Apabila tidak mendapat pengobatan, maka lebih dari 50 persen orang yang mengidap penyakit ini dapat meninggal.

Sementara stunting, merupakan masalah gizi yang bersifat kronis yang disebabkan oleh banyak faktor baik dari masalah kesehatan maupun di luar kesehatan dan berlangsung lama. Stunting berdampak pada gangguan kognitif dan risiko menderita penyakit degeneratif pada usia dewasa.

Terjadinya stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain asupan gizi, pola asuh yang salah, kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat dan adanya penyakit penyerta seperti TBC, penyakit jantung bawaan serta penyakit kronis lainnya.

Dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia yang diperingati setiap tanggal 24 Maret, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar Pekan TBC Anak dengan berbagai kegiatan, salah satunya berupa skrining TBC terhadap balita stunting.

Kegiatan ini telah dilaksanakan di beberapa daerah termasuk di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta yang dilaksanakan sejak tanggal 21 hingga 28 Maret 2022 di beberapa kapanewon. Kegiatan yang dilaksanakan di Puskemas Pengasih II  merupakan kolaborasi dari Badan Kependudukan  dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), IDAI,  Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dan Zero TB Yogyakarta.

“Tuberkulosis  dan stunting masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Jika dibandingkan dengan balita gizi normal maka balita dengan gizi buruk dan berkategori stunting beresiko lebih tinggi menderita sakit TB. Demiikian juga dengan balita yang menderita TB, dengan masalah gizi yang kronik dan kekebalan yang rentan, potensi stuntingnya juga besar. Balita merupakan kelompok risiko tinggi terinfensi dan sakit TB. Risiko ini semakin meningkat pada mereka yang kontak erat dengan pasien TBC paru terkonfirmasi bakteriologis,”ungkap Kepala BKKBN Dr (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K).

Menurut Hasto Wardoyo yang juga Ketua Tim Pelaksana Percepatan Penurunan Stunting Nasional, kolaborasi antara BKKBN, IDAI, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dan Zero TB Yogyakarta adalah wujud konvergensi dari berbagai pihak agar persoalan TB dan stunting bisa ditangani bersama. Skrining TB terhadap balita merupakan bentuk pendekatan terhadap keluarga beresiko stunting sehingga intervensi di sektor hulu ini bisa menjadi pencegahan sekaligus penanganan melalui intervensi kuratif.

Ke-60 balita yang dilakukan skrining TB hari ini meliputi identifikasi gejala TB, pemeriksaan fisik, pemeriksaan uji tuberculin (telah dilakukan sebelumnya), dan foto Rontgen dada di mobil Rontgen Zero TB Yogyakarta jika memang terindikasi. Selama 5 hari pelaksanaan skrining TB yang telah dilakukan di Kulon Progo oleh Zero TB Yogyakarta sebelum kegiatan hari ini, berhasil menskrining sebanyak 273 balita dan 118 balita di antaranya terduga sakit TBC. Dari sejumlah balita tersebut, belum ada yang terdiagnosis sakit TBC.

“Jika ada balita yang terdiagnosis sakit TBC maka akan segera dirujuk ke puskemas untuk mendapatkan pengobatan sedangkan untuk tata laksana stunting, dokter puskemas bisa merujuk ke dokter anak di rumah sakit daerah,”jelas Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI dr. Rina Triasih, MMed (Paed), PhD, SpAK yang juga Project Leader Zero TB Yogyakarta

Rina Triasih berharap model kolaborasi antara BKKBN, IDAI, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dan Zero TB Yogyakarta bisa dilanjutkan dan dikembangkan untuk daerah-daerah lain agar terjadi penguatan sekaligus pemberdayaan pendamping keluarga cegah stunting. IDAI sendiri siap menjadi partner BKKBN dalam kegiatan akselerasi percepatan penurunan stunting.

Zero TB Yogyakarta sendiri merupakan proyek kolaborasi antara Fakultas Kedokteran, Kesahatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gajah Mada, RSUP Dr Sardjito, Pemprov Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemkot Yogyakarta, Pemkab Kulon Progo dan Burnet Institute Australia. Zero TB Yogyakarta melakukan kegiatan yang inovatif dan komprehensif dengan pendekatan search, treat and prevent. Salah satu inovasi yang dilakukan adalah melakukan pencarian kasus YBC secara aktif di masyarakat menggunakan mobil Rontgen yang dilengkapi dengan alat kecerdasan buatan (artificial intelegent).

Visi Zero TB Yogyakarta yang berharap bisa mengeliminasi tuberkulosis di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 2030 layak menjadi “pemantik” di daerah-daerah lain.

Kegiatan Skrining TB terhadap balita selama Pekan TB di Kulon Progo ini mendapat dukungan penuh dari Dharma Wanita Persatuan BKKBN Pusat yang diketuai oleh dr. Dwi Kisworo Setyowireni, Sp.A (K).

Bagi BKKBN, kegiatan skrining TBC bagi balita stunting menjadi momentum strategis untuk  Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan dan Keluarga Berencana atau Program Bangga Kencana. Aktivisme ini juga memberi kontribusi bagi upaya akselarasi percepatan penurunan stunting yang ditargetkan di 2024 nanti bisa mencapai angka 14 persen.

Stunting dan TBC bukan lagi persoalan klasik yang tidak bisa diatasi. Kerjasama kolaboratif BKKBN dengan IDAI, Zero TB Yogyakarta serta Pemkab Kulon Progo menjadi bukti “kebersamaan” dan “kepedulian” menjadi kata kunci.  Kata kunci untuk  tekad  mewujudkan generasi emas, bukan lagi menjadi slogan kosong belaka. (mii)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:01
05:20
03:42
28:51
12:19
16:55

Viral