- BCA
BBCA Diborong Direksi Saat Turun! Kesempatan Langka Sebelum Harga Terbang ke 10.000?
tvOnenews.com - Di pasar saham, ada satu pedoman investasi yang jarang meleset, ketika para nahkoda kapal memborong tiket, itu tandanya kapal siap berlayar cepat. Saat ini, kita sedang menyaksikan momentum langka di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026, alih-alih bersikap defensif, jajaran petinggi BCA justru agresif menyerok saham mereka sendiri.
Ini bukan sekadar transaksi biasa. Ini adalah eksekusi strategi buy on weakness (membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon). Aksi borong ini menjadi bukti kuat bahwa pihak yang paling memahami kondisi “dapur” perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.
Valuasi Tidak Masuk Akal: BCA Lebih Murah dari Bank Digital
Keyakinan manajemen ini sangat sejalan dengan realitas valuasi sahamnya saat ini. Namun ukuran yang lebih tepat untuk membandingkan saham bank bukan lagi PBV, melainkan PER (Price to Earnings Ratio), karena PER menunjukkan berapa lama investor “membayar” harga saham dari laba yang dihasilkan perusahaan.
Pengamat pasar modal Rendy Yefta mangatakan saat ini, saham BBCA hanya diperdagangkan di kisaran PER sekitar 15 kali. Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia. Sekarang bandingkan dengan Bank Jago (ARTO). Saham ARTO diperdagangkan di sekitar PER 64 kali. Dengan kata lain, investor harus membayar valuasi lebih dari 4 kali lebih mahal dibanding BBCA untuk setiap Rp1 laba yang dihasilkan.
Yang membuat situasinya terasa “gila” adalah kemampuan mencetak laba antara kedua bank tersebut sangat berbeda. BCA sudah terbukti mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan bertumbuh cepat. Bahkan bila dibandingkan dari kemampuan memperbesar laba 5 kali lipat, secara realistis BCA justru berpotensi mencapainya lebih cepat dibanding ARTO karena basis bisnisnya sudah besar, jaringan kuat, CASA dominan, dan profit terus naik setiap tahun.
Jadi pertanyaannya sederhana: mengapa bank digital yang masih jauh lebih kecil, labanya lebih rendah, dan risikonya lebih tinggi justru dihargai 64 kali laba, sementara BCA yang jauh lebih mapan hanya dihargai 15 kali laba? Fenomena inilah yang disebut “salah harga”. Pasar seolah sedang memberi diskon besar kepada saham BBCA. Ketika investor mulai menyadari ketimpangan ini, biasanya yang terjadi adalah valuasi BBCA akan naik kembali menuju level yang lebih wajar.