- SCMP
China Conference Southeast Asia 2026, Anindya Bakrie Tegaskan Posisi RI-Tiongkok sebagai Hub Ekonomi Kawasan
Jakarta, tvOnenews.com - South China Morning Post (SCMP) bersama Kadin Indonesia dan Danantara baru saja menggelar China Conference: Southeast Asia 2026 di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Forum strategis yang digelar di The St. Regis Jakarta ini digelar untuk menegaskan peran Indonesia sebagai simpul ekonomi regional, khususnya dalam arus investasi, ketahanan rantai pasok, serta diplomasi ekonomi.
Di tengah penguatan kemitraan strategis antara Tiongkok dan Indonesia, konferensi ini menjadi ruang dialog kebijakan, penguatan jejaring bisnis, dan pendorong inovasi di ASEAN dan kawasan sekitarnya.
Dalam sambutan pembukaan, The Hon CY Leung, GBM, GBS, JP, KCM, Former Chief Executives of the Hong Kong Special Administrative Region, menegaskan komitmen Tiongkok terhadap kerja sama global.
“Tiongkok dengan tegas menentang unilateralisme dan proteksionisme serta tanpa lelah membela sistem pelatihan multilateral. Inisiatif Tata Kelola Global yang diusulkan tahun lalu oleh Presiden Xi Jinping telah menunjukkan arah ke depan bagi dunia di tengah tantangan terhadap tatanan global. Inisiatif ini telah memperoleh dukungan dari lebih dari 150 negara dan organisasi internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto menempatkan Hong Kong sebagai mitra ekonomi penting bagi Indonesia.
Dalam pidato kunci, ia menyebutkan nilai perdagangan bilateral kedua pihak mencapai sekitar USD 6,5 miliar, dengan realisasi investasi Hong Kong di Indonesia sekitar USD 10 miliar dalam beberapa tahun terakhir.
Menko Airlangga juga menyoroti perjanjian perdagangan bebas Hong Kong–ASEAN yang berlaku sejak 2020 sebagai faktor pendorong penguatan hubungan ekonomi dan bisnis kedua wilayah.
Menghadapi dinamika global yang dipengaruhi perubahan geopolitik dan percepatan teknologi, Publisher of South China Morning Post, Tammy Tam, menekankan pentingnya kepercayaan dan perspektif ahli.
“Relasi yang terpercaya dan pandangan para ahli kini menjadi kunci keberhasilan. Didukung oleh inovasi digital dan standar editorial yang kredibel, South China Morning Post menyampaikan narasi tentang Tiongkok dan Asia Tenggara secara mendalam dan independen, membawa pembaca tak hanya mencermati tren, tetapi juga mampu menerjemahkan pemahaman tersebut menjadi langkah nyata.”
“South China Morning Post telah menjalin kemitraan strategis dengan KADIN Indonesia, yang memungkinkan pertukaran wawasan mengenai Tiongkok dan Indonesia, masing-masing sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, untuk disampaikan kepada pembaca global SCMP, para pemimpin bisnis utama, dan pengambil keputusan di kawasan,” kata Tammy Tam.
Pelaksanaan China Conference: Southeast Asia 2026 menjadi salah satu hasil konkret kemitraan strategis SCMP dan KADIN Indonesia.
Kolaborasi ini ditujukan untuk memperkuat pertukaran perspektif antara Tiongkok, Indonesia, dan Asia Tenggara, sekaligus mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan investor dalam dialog yang berorientasi pada kolaborasi jangka panjang.
Ketua Umum KADIN Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menilai konferensi ini relevan dalam mendorong kerja sama bisnis dan investasi kawasan.
“Kami menyampaikan apresiasi kepada China Conference: Southeast Asia dan South China Morning Post atas terselenggaranya forum yang mempertemukan para pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, dan inovator untuk berdialog secara terbuka dan konstruktif mengenai masa depan kawasan kita,” ungkap Anindya Bakrie.
“Saya percaya Tiongkok, Indonesia, dan Asia Tenggara secara lebih luas dapat menjadi mesin dan pusat produksi pertumbuhan global penting dalam beberapa dekade mendatang. Kita dapat menjadi penggerak pertumbuhan dengan mendorong permintaan, inovasi, dan model bisnis baru di pasar yang mencakup lebih dari dua miliar penduduk,” jelas CEO Bakrie & Brothers tersebut.
Dalam konferensi ini, Danantara Indonesia berperan sebagai country host partner.
Chief Investment Officer Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menjelaskan visi dan prinsip pengelolaan lembaga tersebut.
“Danantara Indonesia adalah bank talenta. Tugas kami adalah menarik talenta global terbaik ke Indonesia untuk mendorong organisasi ini ke depan. Kami belajar dari praktik yang diterapkan Hong Kong dalam menarik modal, sekaligus memperkuat transparansi, supremasi hukum, dan mengomunikasikan kisah Indonesia dengan lebih baik kepada dunia.”
“Sebagai sovereign fund, kami memiliki tujuan utama yang jelas: Danantara harus dikelola untuk menghasilkan keuntungan. Tidak boleh ada politisi di dalam perusahaan, pengelolaannya harus sepenuhnya profesional. Kami juga menerapkan business judgment rule, sehingga keputusan diambil berdasarkan pertimbangan komersial yang sehat tanpa rasa takut terhadap kriminalisasi. Hal ini sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memposisikan Indonesia sebagai tujuan investasi global jangka panjang yang kredibel,” kata Pandu.
Agenda konferensi turut menghadirkan Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk Bidang Iklim dan Energi HE Hashim S. Djojohadikusumo; Duta Besar Republik Rakyat Tiongkok untuk ASEAN Wang Qing; Charge d’Affaires ad interim Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok Zhou Kan; serta Deputy Secretary for Justice Government of the Hong Kong Special Administrative Region The Hon Dr Horace Cheung Kwok-kwan. Sejumlah pemimpin perusahaan multinasional, lembaga keuangan, dan perusahaan teknologi juga berpartisipasi, termasuk Alibaba Cloud, HSBC, Huawei, Ant International, Bank Rakyat Indonesia, Fosun Health, FWD Group, dan OCBC.
Diskusi panel mengulas isu-isu strategis seperti keseimbangan geopolitik di tengah tensi AS–Tiongkok, prospek strategi rantai pasok China+1, akses pembiayaan, serta pertumbuhan pesat ekonomi digital.
Konferensi ini diikuti sekitar 500 peserta dari Indonesia dan berbagai negara di kawasan, sekaligus menjadi penanda 75 tahun hubungan Tiongkok–Indonesia serta meningkatnya peran Indonesia dalam membentuk kerja sama ekonomi regional menjelang APEC 2026 di Shenzhen. (rpi)