news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
Sumber :
  • dok. BPMI Istana Negara

Airlangga Klaim Industri Alas Kaki RI Masih Tahan Gempuran Global, Ekspor Tumbus Signifikan

Kontribusi sektorindustri alas kaki Indonesia tercatat sebesar 1,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan pada kuartal III 2025.
Rabu, 21 Januari 2026 - 23:47 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan industri alas kaki nasional tetap menunjukkan daya tahan kuat di tengah gejolak dan ketidakpastian ekonomi global.

Menko Airlangga menilai, industri alas kaki merupakan salah satu tulang punggung sektor padat karya nasional yang berperan penting dalam menopang perekonomian sekaligus menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.

Hal itu disampaikan Airlangga saat hadir secara virtual dalam Musyawarah Nasional ke-XI Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO) di Jakarta, Rabu (21/1/2026).

“Pada tahun 2024, nilai ekspor industri alas kaki tumbuh signifikan sebesar 13,13 persen dan mencapai 7,28 miliar dolar AS. Capaian ini mencerminkan daya saing yang kuat dan tetap terjaga di pasar global,” ujarnya.

Kontribusi sektor ini tercatat sebesar 1,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan pada kuartal III 2025. Hingga Februari 2025, industri alas kaki juga menyerap sekitar 921 ribu tenaga kerja.

Dari sisi investasi, kepercayaan investor terhadap industri alas kaki nasional dinilai terus menguat. Realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada 2024 mencapai 859 juta dolar AS.

Sementara hingga semester I 2025, realisasinya telah menyentuh 803 juta dolar AS atau melonjak sekitar 93 persen dalam enam bulan.

Airlangga menyebut tingginya minat investasi tersebut sejalan dengan tingkat utilisasi industri yang stabil di atas 80 persen.

Kondisi ini mencerminkan kapasitas produksi yang optimal serta prospek usaha yang masih positif.

“Namun demikian, kita perlu tetap waspada terhadap berbagai tantangan termasuk diberlakukanya kebijakan tarif resiprokal sebesar 19 persen di pasar Amerika Serikat. Oleh karena itu, Indonesia berharap dengan implementasi IEU-CEPA, pasar ini bisa terus dibuka. Dan tentunya di tahun ini kita persiapkan agar implementasi IEU-CEPA bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin,” ujarnya.

Untuk menjaga ketahanan industri alas kaki, pemerintah telah menyiapkan berbagai instrumen kebijakan konkret

Langkah tersebut mencakup penguatan pasar domestik melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 23 Tahun 2025 tentang pengaturan impor barang konsumsi.

Selain itu, pemerintah memberikan stimulus fiskal bagi tenaga kerja melalui kebijakan PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah berdasarkan PMK Nomor 10 Tahun 2025.

Dukungan lainnya berupa penyediaan Kredit Investasi Padat Karya melalui Permenko Nomor 4 Tahun 2025, serta fasilitasi ekspor melalui optimalisasi kawasan berikat dan penyederhanaan prosedur ekspor.

Pemerintah juga berupaya membangun iklim usaha yang kondusif melalui sinergi dengan APRISINDO.

Upaya tersebut meliputi reformasi regulasi ketenagakerjaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia industri, penyederhanaan perizinan dan standarisasi biaya K3 berbasis risiko, optimalisasi logistik dan percepatan pasokan bahan baku, percepatan penerapan ekonomi sirkular, hingga penguatan diplomasi perdagangan.

Lebih lanjut, Airlangga menilai Munas XI APRISINDO menjadi momentum strategis untuk merumuskan arah kebijakan organisasi yang adaptif dan visioner dalam mengawal transformasi ekonomi serta penerapan standar keberlanjutan industri.

“Munas XI ini menjadi wadah penting untuk mengkonsolidasikan pandangan, merumuskan rekomendasi strategis, serta menyepakati langkah-langkah nyata dunia usaha dalam mendukung agenda pembangunan nasional, khususnya di sektor industri padat karya,” tambah dia. (ant/rpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:02
01:12
02:10
03:00
05:58
09:13

Viral