- tvOnenews/Abdul Gani Siregar
Menkeu Purbaya Santai APBN Defisit 3 Persen: Konsekuensi Logis Kebijakan Counter-Cyclical
Jakarta, tvOnenews.com - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan pemerintah tidak gusar menghadapi defisit APBN tahun anggaran 2025 yang mendekati tiga persen.
Menurutnya, pelebaran defisit merupakan bagian dari strategi fiskal untuk menahan perlambatan ekonomi nasional.
“Jadi, defisit fiskal adalah suatu konsekuensi logis dari kami menjalankan kebijakan counter cyclical,” ujar Purbaya di Kompleks DPR RI, Jakarta Pusat, dikutip Selasa (20/1/2026).
Purbaya mengakui pertumbuhan ekonomi rontok sejak awal 2025, dipicu melemahnya permintaan domestik dan kesulitan penciptaan lapangan kerja. Kondisi itu memuncak menjadi aksi unjuk rasa besar-besaran di berbagai daerah pada Agustus 2025.
“Demo yang terjadi di bulan Agustus awal, itu indikasi bahwa masyarakat sudah susah cari kerja, makanan, sudah terganggu. Jadi, kita mesti menciptakan kebijakan yang membalikkan arah itu, mengatasi itu,” tuturnya.
Ia menyebut belanja pemerintah dipacu untuk memperkuat permintaan, menarik investasi, dan menyerap tenaga kerja. Purbaya memastikan alokasi fiskal ke depan akan diarahkan pada penciptaan lapangan kerja agar protes sosial tidak kembali meluas.
“Kewajiban kami, pemerintah, dan bank sentral, dan lainnya, kami memastikan bahwa ekonomi tumbuh lebih cepat ke depan sehingga lapangan kerja tercipta lebih banyak, sehingga orang enggak sibuk demo, tapi sibuk bekerja,” kata Purbaya.
Di parlemen, defisit 2025 yang menembus 2,92 persen menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan anggaran tahun berikutnya. Ketua DPR RI, Puan Maharani, menekankan pentingnya pembahasan mitigasi agar defisit fiskal tidak kembali melebar pada tahun anggaran 2026.
Evaluasi akan dilakukan melalui alat kelengkapan dewan dan komisi terkait. Menurut DPR, proses tersebut krusial untuk menjaga keseimbangan antara belanja negara dan kemampuan pendapatan. (agr/nba)