- MIND ID
Hilirisasi Bauksit Masuk Fase Krusial 2026, Industri Nasional Perlu Didorong Lebih Terintegrasi
Jakarta, tvOnenews.com - Upaya penguatan rantai pasok industri nasional ke depan juga akan bertumpu pada optimalisasi pemanfaatan dan hilirisasi bauksit.
Mineral ini menjadi bahan baku strategis setelah diolah menjadi alumina dan aluminium, yang dibutuhkan berbagai sektor, mulai dari manufaktur, konstruksi, transportasi, hingga pengembangan energi terbarukan.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat sumber daya bauksit Indonesia mencapai sekitar 7,4 miliar ton, dengan cadangan sekitar 2,7 miliar ton yang telah berstatus siap ditambang.
Potensi tersebut menempatkan Indonesia pada posisi kuat untuk mendorong hilirisasi mineral dan mempercepat industrialisasi nasional.
Meski demikian, pemanfaatan cadangan bauksit selama ini dinilai belum maksimal. Produksi masih didominasi ekspor bijih mentah. Produksi bauksit nasional sempat mencapai 31,8 juta ton pada 2022.
Setelah kebijakan larangan ekspor bahan mentah diterapkan, produksi turun menjadi sekitar 19 juta ton pada 2023 dan kembali menyusut menjadi 16,8 juta ton pada 2024.
Situasi tersebut menegaskan pentingnya percepatan pembangunan fasilitas pengolahan bauksit di dalam negeri. Hilirisasi dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah cadangan mineral nasional sekaligus memperkuat fondasi industri secara berkelanjutan.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (ISEW) Ferdy Hasiman menilai program hilirisasi bauksit nasional memasuki fase penentu pada 2026.
Menurutnya, Indonesia perlu konsisten mempercepat peralihan dari model pertambangan ekstraktif menuju ekosistem industri terintegrasi berbasis nilai tambah.
“Indonesia mulai menunjukkan langkah progresif yang sangat berarti. Pola lama pertambangan ekstraktif mulai ditinggalkan, dan hilirisasi menjadi instrumen penting untuk menekan defisit neraca pembayaran melalui pengolahan berbagai komoditas mineral di dalam negeri,” ujar Ferdy, Rabu (7/1/2026).
Ia mengapresiasi langkah pemerintah yang memperkuat peran Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID dalam mengintegrasikan rantai hilirisasi bauksit, mulai dari pengolahan menjadi alumina hingga aluminium.
Integrasi tersebut dinilai krusial untuk menjamin ketersediaan bahan baku bagi industri nasional tanpa bergantung pada impor.
Produk aluminium dari proses terintegrasi diharapkan menjadi basis terbentuknya rantai pasok industri yang kuat, sekaligus menopang sektor manufaktur, transportasi, dan pengembangan energi terbarukan di dalam negeri.
Pandangan senada disampaikan Guru Besar Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) Irwandi Arif. Ia menilai kebutuhan aluminium bersifat lintas sektor dan terus meningkat seiring dinamika ekonomi global.
“Di negara berpendapatan tinggi, aluminium banyak digunakan untuk sektor transportasi. Sementara di negara berpendapatan rendah dan menengah, penggunaannya lebih dominan untuk sistem transmisi listrik, barang manufaktur, dan konstruksi,” ujar Irwandi dalam bukunya Bauksit Indonesia.
Kajian International Aluminium Institute juga menyebut kapasitas pemurnian alumina sebagai indikator penting dalam meningkatkan daya saing industri suatu negara.
Dengan beroperasinya fasilitas pengolahan bauksit terintegrasi di Mempawah, Indonesia kini memiliki posisi strategis untuk memenuhi kebutuhan aluminium, baik untuk pasar domestik maupun global.
Ke depan, penguatan proyek hilirisasi bauksit diharapkan mampu mengoptimalkan cadangan nasional, memperkokoh struktur industri dalam negeri, serta menjadikan aluminium sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi dan industrialisasi masa depan Indonesia. (rpi)