- Pixabay
Mengapa Adopsi Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) di Bidang Pendidikan, Riset dan Industri Tak Bisa Ditunda?
tvOnenews.com - Transformasi digital melalui solusi kecerdasan buatan (AI) kini bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak di era disrupsi teknologi.
Dalam beberapa tahun terakhir, AI telah menjadi katalis utama perubahan di berbagai sektor, mulai dari industri, pemerintahan, hingga pendidikan tinggi.
Perguruan tinggi, khususnya, mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat riset, meningkatkan efisiensi operasional, hingga menciptakan inovasi berbasis data yang lebih adaptif.
Di negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris, pemanfaatan AI dalam riset akademik telah menghasilkan lompatan signifikan.
Menurut laporan dari Stanford AI Index 2025, lebih dari 60 persen universitas top dunia telah mengintegrasikan AI dalam penelitian multidisiplin, mulai dari kesehatan hingga rekayasa lingkungan.
Sementara itu, kampus seperti MIT dan Oxford menggunakan AI untuk mempercepat analisis data riset yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan hari.
Di Indonesia, tren ini mulai menunjukkan geliat yang serupa. Perguruan tinggi dan institusi riset mulai mengeksplorasi potensi AI sebagai motor penggerak transformasi digital yang lebih cepat, efisien, dan adaptif.
Kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi kunci untuk memastikan teknologi ini tidak hanya diadopsi, tetapi juga dimanfaatkan secara optimal untuk menjawab tantangan global.
Melansir dari Antara, upaya mendorong transformasi digital melalui AI terlihat dalam gelaran AP Solution Day 2026 yang diselenggarakan pada 15/04/26 di Surabaya.
Kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi strategis yang mempertemukan pelaku industri, pemerintah, dan profesional IT untuk mengeksplorasi penerapan AI di berbagai sektor.
Lebih dari ratusan peserta hadir, mewakili sektor pendidikan, kesehatan, manufaktur, hingga korporasi. Mereka tidak hanya berdiskusi, tetapi juga menyaksikan langsung berbagai inovasi teknologi dari brand global seperti Acer, Asus Business, Cisco, Dell Technologies, hingga Huawei.
Kehadiran berbagai pemain teknologi ini menunjukkan bahwa transformasi digital berbasis AI telah memasuki tahap implementasi nyata.
Bukan lagi sekadar wacana, melainkan solusi konkret yang siap diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Dalam paparannya bertajuk “Data, Realita, dan Strategi Adopsi AI dalam Mendukung Transformasi Digital di Perusahaan”, Direktur Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi ITS, Bagus Jati Santoso menekankan pentingnya peran AI dalam mendorong inovasi berbasis data.
Keberhasilan transformasi digital tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan infrastruktur dan sumber daya manusia.
Hal ini selaras dengan temuan global yang menunjukkan bahwa sekitar 70 persen proyek transformasi digital gagal bukan karena teknologi, melainkan kurangnya kesiapan organisasi.
Di lingkungan perguruan tinggi, AI kini digunakan untuk berbagai kebutuhan riset, mulai dari analisis big data, simulasi eksperimen, hingga pengembangan model prediktif.
Dengan kemampuan ini, peneliti dapat menghasilkan temuan yang lebih cepat dan akurat, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas disiplin yang sebelumnya sulit dilakukan.
Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Percepatan Transformasi Digital
- Ist
Transformasi digital tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi antara industri, pemerintah, dan dunia pendidikan menjadi faktor penentu keberhasilan.
Hal ini juga ditekankan oleh CEO Anugrahpratama.com, Oliver Johanes Setiawan, yang menyebut bahwa AI kini telah menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan. Sinergi lintas sektor akan mempercepat adopsi teknologi sekaligus meningkatkan daya saing nasional.
Ini sejalan dengan praktik di negara maju seperti Jepang dan Jerman, di mana kolaborasi antara universitas dan industri telah melahirkan berbagai inovasi berbasis AI di bidang manufaktur dan otomasi.
Dalam konteks Indonesia, forum semacam ini menjadi jembatan penting untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan.
Peserta tidak hanya mendapatkan wawasan, tetapi juga kesempatan untuk melihat langsung implementasi teknologi melalui booth interaktif dan sesi Tech Vision.
Transformasi digital melalui AI pada akhirnya bukan hanya soal teknologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia, sistem, dan strategi dapat beradaptasi dengan cepat.
Dengan dukungan riset perguruan tinggi, kolaborasi lintas sektor, serta adopsi teknologi yang tepat, Indonesia memiliki peluang besar untuk mempercepat langkahnya di era digital global. (udn)