- tvOne - mahrus
Taman Kagama Lamongan Diserbu Warga, Air Mancur Menari Jadi Favorit Pengunjung
Lamongan, tvOnenews.com – Kabupaten Lamongan kini memiliki titik temu baru bagi warganya. Revitalisasi Kawasan Gajah Mada (Kagama) yang terletak di Kelurahan Sukomulyo resmi bertransformasi menjadi ruang publik kedua yang memadukan aktivitas sosial, interaksi, hingga geliat ekonomi.
Daya tarik utama yang menjadi primadona warga adalah kehadiran air mancur tujuh warna yang dapat "menari" mengikuti irama. Tak hanya itu, penataan lanskap yang asri membuat kawasan ini langsung dibanjiri pengunjung, terutama bagi mereka yang hobi berolahraga maupun sekadar berswafoto.
Salah satu pengunjung, Robi, mengaku sengaja memboyong istri dan kedua anaknya ke Kagama untuk melihat langsung air mancur yang tengah populer tersebut. Meski datang pada pagi hari saat pendar cahaya lampu belum terlihat, ia tetap terkesan dengan dinamika air mancur tersebut.
"Istri dan anak jadi senang saya ajak ke sini. Walaupun warnanya tak terlihat karena pagi hari, tapi kami cukup senang melihat air mancurnya menari-nari. Ditambah bunga-bunganya juga enak dipandang mata," ujar Robi di lokasi, Minggu (12/4) pagi.
Di tengah populernya kawasan ini, sempat berembus isu miring terkait pengerjaan proyek. Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKP-CK) Lamongan, M. Fahrudin Ali Fikri, menegaskan bahwa seluruh pengerjaan telah sesuai dengan prosedur.
Fahrudin menjelaskan bahwa proyek revitalisasi ini didanai oleh APBD Tahun 2025 dengan nilai Rp924.000.000. Anggaran tersebut mencakup pembangunan kolam air mancur, taman, pemasangan batu alam, drainase, hingga pengadaan tanaman hias.
"Secara pengerjaan sudah tidak ada masalah, dan dikerjakan sesuai RAB (Rencana Anggaran Biaya). Air mancurnya juga berfungsi dengan baik dan ketinggian mancurnya juga sesuai," tegas Fahrudin, Sabtu (11/4/2026).
Fahrudin juga meluruskan persepsi masyarakat mengenai jenis vegetasi yang ada di Kagama. Jika sebelumnya warga mengira terdapat 12 pohon palem, nyatanya dinas menanam 16 pohon ental atau siwalan untuk menjaga karakteristik lokal.
"Pohonnya itu bukan pohon palem, tapi pohon ental (siwalan), dan ada juga jenis tumbuhan lainnya. Semuanya sudah tertanam bahkan kondisinya saat ini hidup, tidak ada yang mati. Lebih jelasnya, masyarakat bisa melihat langsung ke lokasi biar tahu bagaimana kondisinya," pungkasnya. (mmr/gol)