Dari Narkoba ke Pemerintahan, Begini Alasan Mexico Dikuasai Kartel
Jakarta, tvOnenews.com - Kabar tewasnya Nemesio Oseguera Cervantes alias El Mencho kembali menyoroti besarnya pengaruh dan kuatnya jaringan kartel narkoba di Meksiko.
El Mencho dikenal sebagai pemimpin Jalisco New Generation Cartel (CJNG), salah satu organisasi kriminal paling berpengaruh di negara tersebut dalam dua dekade terakhir.
Kasus ini memperlihatkan kompleksitas persoalan struktural di Meksiko yang melibatkan kejahatan terorganisir, politik, dan ekonomi.
Berbagai laporan media internasional menyebut Meksiko sebagai salah satu pemasok utama kokain, heroin, dan metamfetamin ke Amerika Serikat.
Kartel seperti CJNG memainkan peran penting dalam jalur produksi dan distribusi lintas negara.
Sejumlah kajian akademik mencatat pertumbuhan pesat kartel besar sejak era 1990-an.
Organisasi seperti Kartel Gulf, Sinaloa, dan Juarez memperluas kendali atas rantai pasok narkotika, memanfaatkan lemahnya pengawasan wilayah dan tingginya korupsi.
Beberapa media internasional juga menyoroti besarnya pengaruh ekonomi kartel di Meksiko.
Di tengah tingginya angka pengangguran, kelompok kriminal kerap menjadi alternatif sumber penghasilan bagi sebagian warga.
Faktor korupsi dan kekuatan finansial turut memperkuat posisi kartel. Sejumlah analisis menyebut adanya dugaan oknum aparat maupun pejabat publik yang menerima suap untuk melancarkan operasi kartel.
Bahkan, laporan tertentu menyinggung dugaan kedekatan kartel dengan aktor politik, termasuk Partai Revolusioner Institusional (PRI), meski isu ini masih menjadi perdebatan dalam dinamika politik Meksiko.
Tidak hanya itu, konflik antar kartel berdampak langsung pada masyarakat. Data dari berbagai lembaga pemantau menunjukkan puluhan ribu orang tewas akibat kekerasan terkait kartel dalam beberapa tahun terakhir, dengan tren peningkatan dari waktu ke waktu.
Kondisi ini memperlihatkan betapa rumitnya tantangan keamanan yang dihadapi pemerintah Meksiko, di mana kejahatan terorganisir tidak hanya menjadi persoalan kriminal, tetapi juga sosial dan ekonomi.
Pemerintah Meksiko telah menerapkan berbagai strategi dalam menghadapi kartel. Pada era Presiden Felipe Calderon dan Enrique Peña Nieto, pendekatan militer dan reformasi kepolisian menjadi pilihan utama untuk menekan aktivitas kartel.
Sejak 2018, Presiden Andrés Manuel López Obrador mengusung pendekatan berbeda dengan slogan “pelukan, bukan peluru” (abrazos, no balazos).
Strategi ini menitikberatkan pada pencegahan sosial, penguatan kerja sama regional, dan upaya jangka panjang untuk mengurangi kekerasan tanpa sepenuhnya mengandalkan pendekatan militeristik.
Namun, tewasnya El Mencho mempertegas bahwa persoalan kartel di Meksiko bukan sekadar permasalahan satu tokoh kartel, melainkan jaringan besar yang telah mengakar kuat dalam sistem sosial, ekonomi, dan politik negara tersebut.