- Instagram/@arthurmelo
Juventus 'Kuburan Para Bintang'? Arthur Melo dan Deretan Nama Besar Jadi Bukti
Jakarta, tvOnenews.com - Perjalanan karier Arthur Melo bersama Juventus di kompetisi Serie A menjadi salah satu kisah paling kontras dalam beberapa tahun terakhir.
Digadang-gadang sebagai gelandang masa depan saat direkrut Juventus dari Barcelona pada 2020, Arthur justru mengalami penurunan drastis yang membuat kariernya nyaris tenggelam.
Didatangkan dengan ekspektasi tinggi, pemain asal Brasil itu gagal memenuhi harapan publik Turin.
Lima tahun berseragam Juventus diwarnai performa inkonsisten, cedera, hingga kehilangan tempat utama, jauh dari sosok elegan yang dulu bersinar di Barcelona. Namun kini, harapan itu kembali menyala.
Dipinjamkan ke klub masa kecilnya, Gremio, Arthur menunjukkan tanda-tanda kebangkitan. Ia tampil impresif sepanjang awal 2026 dengan mencatatkan 11 penampilan, satu gol, dan akurasi umpan mencapai 95 persen.
Performa apiknya turut mengantar Gremio menjuarai kompetisi negara bagian Rio Grande do Sul.
Satu-satunya noda hanyalah cedera otot ringan yang ia alami pada final melawan Internacional. Namun, secara keseluruhan, Arthur tampak “lahir kembali”.
Tak hanya itu, pemain berusia 29 tahun tersebut juga terang-terangan mengirim pesan kepada pelatih Luciano Spalletti agar memberinya satu kesempatan lagi di Allianz Stadium.
“Luciano suka memiliki gelandang pengatur permainan, poros tim, dan saya menyukai peran itu,” ujar Arthur kepada La Gazzetta dello Sport dilansir Sabtu (21/3/2026).
Ia bahkan menyinggung kesuksesan pemain seperti David Pizarro dan Stanislav Lobotka yang berkembang di bawah arahan Spalletti.
“Bukan hal yang mustahil untuk berpikir bahwa saya bisa beradaptasi dengan baik. Kita lihat saja nanti,” tambahnya.
Refleksi Pahit di Juventus
Arthur tak menampik bahwa masa sulitnya di Juventus menjadi periode penuh pelajaran.
Ia menyadari datang di waktu yang kurang tepat, ketika klub tengah mengalami masa transisi besar.
“Saya tiba di klub pada masa transisi dengan banyak perubahan, dan itu mungkin memengaruhi semua orang, termasuk saya,” ungkapnya.
Ia juga mengakui penyesalan karena gagal menunjukkan performa terbaiknya di Italia.
“Saya menyesal tidak bisa menunjukkan di Juventus apa yang saya tunjukkan di Grêmio. Tapi saya banyak belajar di Italia," tambahnya.