- fifa
Catatan Piala Dunia: Brasil Terjebak Ego Sendiri
Ibarat sinetron, drama Piala Dunia 2022 semakin seru ditonton. Ada suka, ada duka. Ada pekik gembira, ada tangis sengsara. Sepak bola memang tak ada bandingnya.
"Brasil kalah, Piala Dunia pun tamat, tak ada lagi daya pikat," kata pendukung fanatik Tim Samba dengan suara serak, menahan isak.
"Piala Dunia tanpa Belanda, percuma, seperti sarapan roti tanpa mentega," kata pendukung Tim Orange, dengan mata kuyu, sendu.
Sementara pendukung Kroasia dan Argentina melampiaskan histeria bahagia. Mereka pun sadar itu suka sementara, sebab masih ada episode berikutnya.
Kroasia Luar Biasa
"Good save by Livakovic," teriak komentator televisi berkali-kali. Kiper Kroasia, Dominic Livakovic, memang tampil cemerlang. Dia sukses mematahkan selusin shot on target, juga dua penalti pemain Brasil.
Tak kalah hebat Luka Modric, 37 tahun. Pada laga 120 menit itu, Modric menjelajah semua wilayah. Tak pernah salah. Aliran bolanya terarah. Modric atraktif merancang serangan, taktis pula membatu pertahanan. Penaltinya pun keren, mengecoh kiper Alisson.
Tapi kita mesti jujur, kendati menang, perkara menyerang Kroasia tak patut digadang-gadang. Ivan Perisic dan Andrej Kramaric cuma menggertak, tidak menakutkan. Aksinya mudah dijinakan pemain Samba.
Sebaliknya, dalam bertahan Kroasia luar biasa. Kroasia sekurangnya melibatkan sembilan pemain dalam menjaga gawangnya. Mereka disiplin ketat dan rapat mengawal lawan. Itu membuat trio serang Brasil, Vinicius Junior, Richarlison, Raphinha tak berkutik, hingga diganti.
Banyak yang bilang Brasil tak beruntung. Bisa jadi. Tapi yang jelas, Brasil terjebak ego sendiri. Bikin gol maunya dengan jurus akrobatik, agar terlihat cantik. Ini kelebihan, sekaligus kelemahan jogo bonito.
Dicatat sepanjang 120 menit, tak sekali pun tim Samba menembak dari jarak jauh. Maunya bikin gol manis di dalam kotak penalti. Yaa sulitlah, sebab pertahanan lawan berlapis, menghalalkan sapu bersih.
Bagi Brasil, sepak bola harus mendominasi dan mengintimidasi. Boleh saja, tapi ada batas. Apa perlunya keluar menyerang, padahal sudah unggul 1-0, dan laga tersisa sekitar tiga menit.
Ketika itulah, Kroasia membalas gol lewat serangan balik. Itulah satu satu shot on target Modric dan kawan kawan. Neymar dan Brasil menangis. Sepak bola terkadang memang kejam.
Kado untuk Messi
Mania bola mungkin setuju bahwa Argentina pantas memulangkan Belanda. Kesalahan Tim Orange cuma satu, terlalu gengsi untuk 'mematikan' Lionel Messi.
Piala Dunia Qatar seperti kado terakhir untuk King Leo. "Saya dalam kondisi puncak," kata Messi sebelum bertanding. Dia tidak bohong. Messi masih bintang di atas bintang.
Pada laga di stadion Lusail Iconic itu, Messi mengeluarkan semua sihirnya. Mengancam dengan banyak tendangan dan umpan maut. Dan mempersembahkan dua penalti berkelas.
Semestinya tak perlu adu penalti. Belanda sudah selesai, saat tertinggal dua gol. Tapi tim Tango baik, mau menurunkan tempo dan tekanan, sehingga Belanda cetak dua gol balasan.
Tapi nasib Virgil van Dijk dan kawan-kawan tidak berlanjut. Mental mereka tidak siap menghadapi duel sakral tos-tosan dua belas pas. Belanda mesti ikhlas.
Nah, malam ini hingga subuh, mania bola pasti melek lagi di depan teve. Jam dua dini hari Inggris lawan Prancis. Sebelumnya Portugal versus Maroko. Ini dua big match, fatwanya rugi kalau tidak nonton.
Siapa menang? Saya berharap Inggris, agar marwahnya sebagai negeri sepakbola diakui. Tapi Prancis lebih mayakinkan. Soalnya punya Kylian Mbappe.
Saya juga ingin sekali Maroko menang, agar misteri Piala Dunia terus dikenang. Kalau bertaruh? Sumpah, saya pilih Portugal, Seleccao Das Quinas. Hahhahaa...
- Reva Deddy Utama: Wartawan dan Pemerhati Sepak Bola