- Reuters
Kandas di Liga Champions, Begini Alasan Bodo/Glimt Perkasa di Kandang Inter Milan
Sepanjang 90 menit, Inter melepaskan 33 tembakan. Namun hanya enam yang tepat sasaran.
Sebaliknya, Bodo/Glimt tampil efektif. Dari tujuh percobaan, lima mengarah tepat ke gawang. Efisiensi inilah yang membedakan kedua tim.
Masalah utama Inter terlihat jelas: mereka kesulitan membongkar pertahanan rapat dengan 11 pemain bertahan di separuh lapangan sendiri. Umpan lambat, pergerakan kurang tajam, dan minim kreativitas di sepertiga akhir menjadi hambatan besar.
Tempo Lambat Jadi Penyakit Lama
Kritik juga datang dari legenda Italia, Fabio Capello. Ia menilai tim-tim Italia, termasuk Inter, bermain dengan tempo yang terlalu lambat.
Menurut Capello, ketika menghadapi tim yang agresif, menekan tinggi, dan bermain cepat, klub-klub Italia sering kewalahan karena tidak terbiasa dengan intensitas tersebut.
Bodo/Glimt membuktikan hal itu. Mereka tampil kompak dalam bertahan, tetapi sangat cepat saat transisi. Nama-nama seperti Patrick Berg, Hauge, dan Ole Didrik Blomberg beberapa kali merepotkan lini belakang Inter dengan kecepatan mereka.
Alarm untuk Sepak Bola Italia
Kekalahan ini bukan hanya tamparan bagi Inter, tetapi juga menjadi refleksi bagi sepak bola Italia secara umum.
Ketika tempo lambat menjadi kebiasaan di kompetisi domestik, tim-tim Italia akan terus kesulitan menghadapi lawan dengan pressing tinggi dan intensitas cepat di level Eropa.
Inter boleh jadi masih kokoh di puncak Serie A. Namun di Liga Champions, mereka baru saja menerima pelajaran pahit: dominasi tanpa efektivitas dan tempo lambat tak lagi cukup untuk bersaing di panggung elite Eropa.(lgn)