- instagram manutd
Ketika Kasta Liga Inggris Terlalu Tinggi untuk Liga Europa: Kisah Aneh Manchester United dan Tottenham di Final Liga Europa
tvOnenews.com - Dua tim yang terpuruk di papan bawah Liga Inggris, Manchester United finis di peringkat ke-15 dan Tottenham Hotspur di posisi ke-17, justru bertemu di panggung final kompetisi Eropa.
Bagi sebagian pengamat, ini bukan semata bukti dominasi klub Inggris, melainkan sinyal jelas adanya kesenjangan kasta antar liga di Eropa.
Liga Inggris, dengan kekuatan finansial dan kedalaman skuadnya, tampak berada satu tingkat di atas Liga Europa yang kualitasnya kian tergerus setelah perubahan format kompetisi.
Final MU vs Spurs pun terasa ganjil: bukan karena dramanya, tetapi karena memperlihatkan bahwa kasta liga kini lebih menentukan daripada posisi klasemen domestik.
Final Liga Europa musim lalu kerap disebut sebagai salah satu final paling janggal dalam sejarah kompetisi Eropa.
Bukan karena kualitas pertandingannya, melainkan karena siapa yang bermain di dalamnya. Tottenham Hotspur dan Manchester United, dua tim yang sama-sama terpuruk di papan bawah Liga Inggris, justru bertemu di panggung Eropa.
Spurs finis di peringkat ke-17 Liga Premier, sementara United hanya sedikit lebih baik di posisi ke-15. Namun, keduanya berlaga di final, dan Tottenham keluar sebagai juara.
Situasi ini menimbulkan banyak tafsir. Di satu sisi, hal tersebut menegaskan betapa kuatnya Liga Inggris dibanding liga domestik Eropa lain.
Namun di sisi lain, banyak pihak menilai final itu justru menyoroti penurunan kualitas Liga Europa setelah perubahan format kompetisi.
Lebih banyak tim kini langsung masuk Liga Champions, sementara jalur “turun kasta” dari Liga Champions ke Liga Europa telah dihapus.
Alhasil, Liga Europa kehilangan sebagian daya saingnya, dan final di Bilbao menjadi simbol dari anomali tersebut.
Tujuh bulan berselang sejak gol tunggal Brennan Johnson memastikan trofi pertama Tottenham dalam 17 tahun, kedua klub kembali dipertemukan. Kali ini di Old Trafford, dalam lanjutan Liga Premier. Namun, konteksnya sudah sangat berbeda.
Kenapa Final Liga Europa Disebut Aneh?
Final di Bilbao dianggap “aneh” karena mempertemukan dua tim yang sebenarnya gagal bersinar di kompetisi domestik.
Biasanya, final Eropa menjadi panggung bagi tim-tim elite atau setidaknya penantang serius di liga masing-masing.
- instagram Tottenham Hotspur
Namun Tottenham dan Manchester United datang ke laga puncak itu dengan status sebagai tim papan bawah.
Kondisi tersebut memperkuat argumen bahwa kekuatan finansial dan kedalaman skuad klub-klub Inggris tetap memberi keuntungan besar di level Eropa, meski performa liga mereka buruk.
Di saat bersamaan, perubahan struktur kompetisi Eropa membuat Liga Europa kehilangan banyak tim kuat yang sebelumnya “turun” dari Liga Champions. Kombinasi inilah yang membuat final musim lalu terasa ganjil, bahkan ironis.
Arah yang Berbeda Sejak Malam di Bilbao
Menurut analisis Transfermarkt, perjalanan Tottenham dan Manchester United sejak final Liga Europa menunjukkan kontras yang tajam.
Setelah 24 pertandingan Liga Premier musim ini, Tottenham terdampar di peringkat ke-14, hanya dua poin lebih baik dibanding posisi mereka pada tahap yang sama musim lalu, yang merupakan musim terburuk Spurs di era Premier League.
Sebaliknya, Manchester United kini bertengger di peringkat keempat. Mereka mengoleksi 12 poin lebih banyak dibanding musim lalu pada fase yang sama, dan unggul jumlah poin yang sama atas Tottenham musim ini. Data tersebut mempertegas bahwa Setan Merah mengalami progres nyata, sementara Spurs cenderung stagnan.
Dari sisi performa keseluruhan, United mencatat rata-rata 1,57 poin per pertandingan di semua kompetisi sejak final, sementara Tottenham hanya 1,37 poin per pertandingan.
Spurs memang sedikit lebih solid dalam bertahan, kebobolan 1,32 gol per laga dibanding United yang kebobolan 1,46, namun lini depan United lebih tajam dengan rata-rata 1,75 gol per pertandingan, berbanding 1,58 milik Tottenham.
Rekrutmen, Pelatih, dan Ujian Malam Ini
Menariknya, nilai pasar skuad Tottenham (€877 juta) lebih tinggi dibanding Manchester United (€719 juta). Namun angka tersebut belum tercermin di lapangan.
United memilih merekrut pemain yang sudah teruji di Liga Premier seperti Bryan Mbeumo dan Matheus Cunha, yang langsung memberi dampak. Tottenham, sebaliknya, lebih berorientasi pada proyek jangka panjang.
Manajer Spurs, Thomas Frank, bahkan mengakui kondisi timnya. “Perlu diingat bahwa kami finis di posisi ke-17 musim lalu,” ujarnya dalam konferensi pers terbaru.
Meski performa Eropa Spurs cukup menjanjikan dengan finis keempat di fase liga Liga Champions, inkonsistensi domestik masih menjadi masalah besar.
Bagi United, era Michael Carrick sebagai manajer interim membawa harapan baru. Namun kehati-hatian tetap diperlukan, mengingat klub pernah terbuai oleh efek jangka pendek di masa lalu.
Meski begitu, jelas terlihat bahwa United saat ini jauh lebih fungsional dibanding tim yang kalah di final Liga Europa.
Pertandingan Manchester United vs Tottenham di Old Trafford bukan sekadar laga liga biasa. Ini adalah cermin perjalanan dua klub sejak malam “aneh” di Bilbao, satu perlahan bangkit, satu lagi masih mencari arah. (udn)