- Instagram @maduraunited.fc/@zkrangar10
Nostalgia Liga Indonesia: Persekabpas Pasuruan, Ditopang Zah Rahan Krangar hingga Jadi Kuda Hitam dari Jawa Timur
tvOnenews.com - Penggemar sepak bola Indonesia era awal tahun 2000-an pasti masih ingat dengan klub asal Jawa Timur yaitu Persekabpas Pasuruan.
Datang sebagai tim kuda hitam setelah promosi dari kasta kedua pada 2004, klub kebanggaan warga Pasuruan ini menjelma sebagai kekuatan baru di Liga Indonesia.
Dihuni oleh sederet bintang asing seperti Zah Rahan Krangar, Alfredo Figueroa, Murphy Kumonple hingga Pancho Rotunno, Persekabpas Pasuruan tampil menyengat.
Bukan cuma itu, para pemain lokal juga sama luar biasanya. Memori tertuju kepada Siswanto, Supriyadi dan Kasan Soleh dengan pelatih legendaris, Subangkit.
Hasilnya cukup luar biasa. Sebagai pendatang baru, Laskar Sakera hampir lolos ke final Liga Indonesia XII 2006 andai tidak kalah tipis dari PSIS Semarang di semifinal.
Namun, semua itu tinggal kenangan. Dua dekade berlalu, Persekabpas Pasuruan kini masih berjuang di Liga 3. Bahkan untuk naik ke Championship saja masih kesulitan.
Lantas, bagaimana kisah ajaib Persekabpas Pasuruan, tim kuda hitam yang hampir juara Liga Indonesia 2006?
Bermarkas di Stadion R. Soedarsono, Pogar, Bangil, Persekabpas Pasuruan sejatinya bukanlah tim dengan kekuatan besar di sepak bola Indonesia sejak berdiri pada 1985.
Sejak era Liga Indonesia pada 1994, Laskar Sakera hanya berkutat di Divisi II saja. Namun, promosi ke kasta tertinggi pada 2005 dengan status juara mengubah segalanya.
Pada musim pertamanya di Liga Bank Mandiri 2005, Persekabpas Pasuruan sebagai tim promosi tampil mengesankan. Mereka finis di posisi keenam klasemen wilayah Barat.
Dari total 26 pertandingan di wilayah Barat, Persekabpas Pasuruan mampu koleksi 37 poin, hasil dari masing-masing 11 kali menang dan kalah serta empat lainnya imbang.
Musim itu seolah menjadi ajang pemanasan saja bagi Persekabpas Pasuruan lantaran di tahun berikutnya atau Liga Indonesia 2006, mereka akan mengguncang lawan-lawannya.
Dimotori pelatih Subangkit, Persekabpas datang dengan pemain asing jempolan macam Zah Rahan Krangar, Alfredo Figueroa, Murphy Kumonple hingga Pancho Rotunno.
Kiper Roni Tri Prasnanto, dua bek sayap Siswanto dan Kasan serta striker Achmad Junaedi turut membantu bagaimana eksplosivitas Persekabpas Pasuruan.
Tampil tanpa beban seperti tim-tim besar lainnya, Persekabpas Pasuruan diluar dugaan bisa finis di posisi empat klasemen wilayah Barat Liga Indonesia XII 2006.
Ketika itu, skuad arahan Subangkit hanya berada di bawah Arema Malang, Persija Jakarta dan PSIS Semarang. Mereka catat 42 poin setelah 12 menang, 6 seri serta 8 kalah.
Di babak 8 besar, petualangan Persekabpas Pasuruan kian sulit. Persija Jakarta beserta Persmin Minahasa dan PSM Makassar jadi lawan mereka di grup Timur.
Kisah 'dongeng' Persekabpas Pasuruan kembali berlanjut usai kandaskan Persija Jakarta (3-1) dan PSM Makassar (5-1) serta imbangi Persmin Minahasa (2-2).
Hasil tersebut mengantarkan Persekabpas Pasuruan jadi pemuncak grup Timur dengan perolehan 7 poin dan mencetak 10 gol, bahkan hanya 4 kali kebobolan.
Namun, cerita manis Persekabpas Pasuruan di Liga Indonesia 2006 terhenti di semifinal ketika gol tunggal Imral Usman bawa PSIS Semarang amankan tiket final.
Persekabpas Pasuruan Setelah Liga Indonesia 2006
Performa luar biasa Laskar Sakera di musim itu membuat para pemain mereka laris manis diburu oleh klub-klub besar sesama kontestan Liga Indonesia.
Zah Rahan Krangar dan Pancho Rotunno ke Sriwijaya FC, Alfredo Figueroa menuju PSIS Semarang, Murphy Kumonple ke PSMS Medan bahkan Siswanto ke Persmin Minahasa.
Ironisnya, eksodus para pemain ke klub lain membuat prestasi Persekabpas Pasuruan di Liga Indonesia 2007 juga ikut jeblok. Mereka bahkan finis tiga terbawah.
Nasib tim yang punya basis suporter bernama Sakeramania itu semakin menyedihkan ketika mereka gagal ke ISL 2008 dan harus berkompetisi di Divisi Utama.
Bahkan di musim 2008 pula, Persekabpas Pasuruan terdegradasi ke Divisi II atau kasta ketiga sepak bola Indonesia setelah finis di posisi terbuncit Divisi Utama.
Semenjak saat itu, Persekabpas Pasuruan belum lagi kembali ke strata tertinggi sepak bola Indonesia. Untuk ke Liga 2 saja, rasanya cukup berat bagi mereka.
Prestasi terbaik Persekabpas Pasuruan hanya menjadi runner-up Liga 3 Jawa Timur 2018 dan tempat ketiga pada edisi 2023/2024. Selebihnya, kiprah mereka tak terdengar.
(han)