- Benjamin Mora - logo Persebaya - Dok. Dragan Djukanovic
Persebaya di Persimpangan, Pilih Pelatih asal Meksiko atau Serbia?
Pengalamannya menangani klub dengan tuntutan juara dinilai sejalan dengan karakter Persebaya sebagai tim besar dengan basis suporter fanatik.
Selain JDT, Mora juga pernah menangani Atlas FC dan York United FC. Saat ini, ia diketahui masih berstatus sebagai pelatih kepala Querétaro FC sejak Desember 2024.
Namanya pun bukan asing bagi publik sepak bola Indonesia, lantaran sempat dikaitkan dengan Persib Bandung.
Jika berhasil didatangkan, Persebaya berpotensi memiliki pelatih berlevel Asia yang terbiasa membangun permainan disiplin, solid, dan konsisten—fondasi yang sangat dibutuhkan Bajul Ijo untuk bangkit di putaran kedua.
Namun, Benjamin Mora bukan satu-satunya opsi. Pesona dan nama besar Persebaya juga berhasil menarik minat pelatih asal Serbia, Dragan Djukanovic.
- Doc.Dragan Dukanovic
Juru taktik berlisensi UEFA Pro itu secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk kembali ke Indonesia demi menangani Bajul Ijo.
Dalam wawancara eksklusif bersama tvOnenews.com, Dragan menyebut Persebaya sebagai klub besar yang seharusnya berada di posisi lebih baik.
“Persebaya sudah lama memiliki masalah, padahal ini adalah klub yang sangat besar dan pantas mendapatkan yang lebih baik, begitu juga dengan para penggemarnya yang fenomenal,” ujar Dragan.
Mantan pelatih PSIS Semarang dan Borneo FC tersebut mengaku masih memiliki ambisi yang belum tuntas di Indonesia.
“Saya melihat ke depan, tentu saja selalu ada opsi, tetapi sejujurnya saya ingin bekerja di Indonesia lagi dan menangani klub dengan target tertinggi,” tegasnya.
Saat ini, Dragan masih melatih Maziya S&RC di Liga Maladewa. Namun, ia menilai tantangan di sana tidak sebanding dengan atmosfer sepak bola Indonesia.
“Perbandingan dengan Indonesia tidak bisa dilakukan karena sepak bola di Indonesia adalah jalan hidup, sementara di sana lebih sebagai hiburan,” ungkapnya.
Pengalaman Dragan juga terbilang mentereng. Ia pernah membawa Sheikh Russell dari Bangladesh mencetak sejarah di AFC Cup, menjadi finalis Piala Montenegro bersama Lovćen FC, hingga menembus perempat final UEFA Intertoto Cup bersama OFK Belgrade.