- instagram Dony Tri Pamungkas
Saat Usianya Masih 16 Tahun, Dony Tri Pamungkas yang Mulai Bersinar di Timnas Indonesia Pernah Ungkap Bisa Tembus Main di Liga 1 Bersama Persija Jakarta, Bung Ferry Terpukau
tvOnenews.com - Perjalanan Dony Tri Pamungkas menjadi salah satu kisah paling menarik dalam perkembangan sepak bola Indonesia.
Jauh sebelum namanya dikenal luas seperti sekarang, Dony sudah menunjukkan mimpi besar sejak usia sangat muda.
Bahkan ketika masih 16 tahun, ia dengan percaya diri mengungkapkan keinginannya menembus tim utama Persija Jakarta, sebuah ambisi yang kala itu terdengar berani, namun kini terbukti nyata.
Momen tersebut terekam dalam kanal YouTube Persija Jakarta, ketika Dony muda berbicara tentang mimpinya.
Ucapannya sederhana, tetapi penuh keyakinan: “Dony melihat Persija itu tim yang besar ya, sampe supporter fanatik. Karena itulah saya bermimpi main di Persija.”
Pernyataan itu langsung menarik perhatian banyak pihak, termasuk Ferry T. Indrasjarief atau Bung Ferry, yang mengaku terpukau dengan mentalitas sang pemain muda.
Kini, bertahun-tahun setelah momen tersebut, Dony bukan hanya sekadar pemain muda penuh harapan. Ia telah berkembang menjadi salah satu pilar penting, baik di level klub maupun tim nasional.
Bahkan di bawah arahan John Herdman, Dony tampil gemilang di FIFA Series 2026, termasuk saat menghadapi Bulgaria, meski Indonesia harus puas menjadi runner-up usai kalah tipis 0-1.
- youtube persija jakarta
Dari Pasar Boyolali ke Persija Jakarta
Perjalanan karier Dony Tri tidak instan. Ia memulai semuanya dari tempat sederhana, yakni area pasar di belakang rumahnya di Boyolali, Jawa Tengah.
Sejak usia empat tahun, ia sudah akrab dengan bola, bermain bersama sang kakak, Joko Sasongko, yang juga merupakan mantan pemain profesional.
Dalam sebuah perbincangan, Dony mengenang masa kecilnya: "Dulu almarhum ayah saya pernah cerita, dia bekas pemain tarkam, tetapi nggak sampai tingkat profesional aja."
Lingkungan keluarga yang dekat dengan sepak bola membuat kecintaannya tumbuh secara alami. Ia bahkan bercerita bagaimana pasar menjadi “lapangan” pertamanya.
"Setiap pagi buat jual sayur, ketika waktu sore sudah tutup kan, nah saya main bola sama abang saya di situ. Saya masih empat tahun waktu itu," ujarnya.