- tvOnenews.com/Taufik Hidayat
Media Malaysia Tuduh Serangan Siber Suporter Timnas Indonesia ke Harimau Malaya Rugikan Sepak Bola ASEAN, Bawa-Bawa AFC dan FIFA
Surabaya, tvOnenews.com - Media Malaysia, Makan Bola, menuduh serangan siber suporter Timnas Indonesia ke skuad Harimau Malaya merugikan sepak bola ASEAN (Asia Tenggara).
Menurut media Malaysia itu, sejumlah netizen Tanah Air yang melancarkan serangan terhadap Malaysia di media sosial, membuat hubungan kedua kelompok suporter tersebut mengalami keretakan.
- tvOnenews.com/Taufik Hidayat
"Serangan Suporter Indonesia ke Malaysia Rugikan Sepak Bola ASEAN," tulis Makan Bola dalam artikelnya.
"Hubungan sepak bola antara Malaysia dan Indonesia kembali rusak ketika segelintir pendukung (Indonesia) melancarkan serangan terhadap Malaysia di media sosial," tambahnya.
Namun, Makan Bola tidak menyebutkan serangan suporter Garuda yang mana yang dianggap telah merugikan sepak bola ASEAN dan skuad Harimau Malaya -julukan Timnas Malaysia- itu.
Disinyalir munculnya serangan itu, salah satunya karena adanya sejumlah pemain naturalisasi Timnas Malaysia yang diduga janggal asal usulnya. Sebut saja seperti Rodrigo Holgado hingga Facundo Garces.
- Instagram/@facundogarces
Kemudian Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) sempat menolak ajakan tanding Timnas Indonesia. Sejumlah insiden itu membuat para netizen Indonesia pun memberikan komentar negatif di media sosial.
Namun menurut Makan Bola, komentar itu menjelma menjadi ladang kebencian di dunia maya yang melibatkan sejumlah pihak yang termakan provokasi ekstrem. Hal ini yang dinilai merugikan mereka.
"Yang lebih mengkhawatirkan, serangan-serangan tersebut bukan sekadar provokasi biasa. Serangan-serangan tersebut juga disertai dengan penyebaran berita palsu yang mengklaim bahwa Malaysia menerima campur tangan dari FIFA," tulis Makan Bola.
"Narasi ini hanya mengobarkan api kebencian, menciptakan persepsi negatif terhadap Malaysia. Situasi ini menimbulkan persoalan besar," tambah media Malaysia itu.
Lebih lanjut, Makan Bola heran mengapa konflik di media sosial itu tampak begitu terencana, dengan narasi yang sama terus diulang-ulang di berbagai platform.
Mereka menduga ada pihak-pihak tertentu yang dapat memastikan permusuhan ini berlanjut demi keuntungan pribadi. Makan Bola juga mempertanyakan peran Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, yang menjadi perhatian.
Mereka menilai pengaruh besar yang dimilikinya dipandang belum cukup ampuh untuk meredakan ketegangan dan menenangkan antar pendukung kedua negara.
"Ironisnya, hubungan antar pemain kedua tim di lapangan justru baik dan saling menghormati.
Permusuhan ini sebagian besar dipicu oleh para suporter yang terjebak dalam hasutan dan propaganda di media sosial," tulis Makan Bola.
Menurut Makan Bola, jika permusuhan di media sosial antar suporter kedua negara dibiarkan berlarut-larut, konflik seperti itu akan merugikan sepak bola regional.
Bahkan, media Malaysia tersebut menilai insiden semacam itu berpotensi menarik perhatian FIFA dan AFC untuk mengambil tindakan tegas.
Jika masalah ini memengaruhi integritas kompetisi, kecil kemungkinan tindakan tegas FIFA dan AFC akan diambil terhadap kedua belah pihak (PSSI dan FAM).
"Malaysia dan Indonesia adalah dua kekuatan besar ASEAN dan setiap pertemuan seharusnya dirayakan sebagai pesta sepak bola, bukan dirusak oleh permusuhan yang tak berkesudahan," tulis Makan Bola.
"Lebih serius lagi, insiden semacam itu berpotensi menarik perhatian FIFA dan AFC," tulisnya lagi.
Masih menurut anggapan Media Malaysia itu, sepak bola Asia Tenggara tidak akan maju selama masih dibayangi kebencian dan hasutan ekstrem.
"Bukan hanya Malaysia yang kalah, tetapi juga Indonesia sendiri, karena nilai olahraga sebagai jembatan persahabatan dihancurkan oleh emosi yang tak terkendali," katanya.
Terlepas dari hal itu, kedua negara akan sama-sama menjalani FIFA Matchday malam ini, Senin (8/9/2025). Timnas Indonesia bersua Lebanon, sementara Malaysia menantang Palestina.
(yus)