news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ILUSTRASI - Media sosial.
Sumber :
  • Freepik

Ruang Panas Perdebatan di Kolom Komentar

Inilah artikel opini mengenai komentar di media sosial.
Selasa, 16 Desember 2025 - 13:09 WIB
Reporter:
Editor :

Penulis: Ilham Khalid Setiawan, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Paramadina

Disclaimer: Artikel ini telah melalui proses editing yang dipandang perlu sesuai kebijakan redaksi tvOnenews.com. Namun demikian, seluruh isi dan materi artikel opini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis.

Sebuah unggahan sederhana di Instagram tentang preferensi makanan misalnya "Es teh manis punya brand X emang juara!" awalnya hanya mendapat komentar biasa seperti "Setuju banget!" atau "Aku sih lebih suka yang tanpa gula".

Tak disangka, satu reply yang menanggapi dengan nada defensif, "Yang bilang tanpa gula berarti anti budaya kita dong?", langsung memicu rantai perdebatan panas.

Ribuan netizen ikut campur, saling serang dengan argumen politik, kesehatan, hingga identitas nasional.

Dalam hitungan hari, topik itu viral, memecah opini publik, dan bahkan memengaruhi citra brand terkait.

Fenomena ini bukan hal baru di era digital akhir 2025 di mana kolom komentar yang seharusnya untuk diskusi ringan sering eskalasi menjadi perdebatan sengit yang menciptakan krisis reputasi atau polarisasi sosial.

Interaksi Sosial Era Modern

Media sosial seperti Instagram, TikTok, X, dan Facebook telah menjadi pusat interaksi masyarakat Indonesia.

Berdasarkan laporan Digital 2025 dari We Are Social dan Meltwater, Indonesia memiliki sekitar 180 juta pengguna media sosial pada awal 2025 dengan peningkatan signifikan dari tahun sebelumnya.

Platform ini dirancang untuk koneksi dan ekspresi, tapi fitur komentar dan reply justru sering menjadi pemicu konflik.

Algoritma yang memprioritaskan engagement tinggi—seperti like, reply, dan share—membuat perdebatan panas cepat naik ke timeline utama mengubah diskusi biasa menjadi arena pertarungan opini yang tak terkendali.

Para ahli komunikasi krisis modern menganalisis dinamika ini melalui Situational Crisis Communication Theory (SCCT), dikembangkan oleh W. Timothy Coombs sejak 2007, dan terus disesuaikan dengan era media sosial.

SCCT, yang sering diintegrasikan dengan model Social-Mediated Crisis Communication, fokus pada bagaimana atribusi tanggung jawab publik terhadap suatu situasi memengaruhi reputasi.

Teori ini membagi krisis menjadi tiga cluster utama:

Victim Cluster: Situasi di mana pihak terkait (individu atau brand) menjadi korban, seperti kesalahpahaman atau serangan tanpa dasar. Tanggung jawab rendah, ancaman reputasi minimal.

Accidental Cluster: Krisis tak disengaja, misalnya komentar yang disalahartikan karena kurangnya konteks teks.

Preventable Cluster: Krisis yang bisa dicegah, seperti reply provokatif atau defensif yang sengaja memanaskan suasana. Ini paling berisiko karena publik langsung menyalahkan pelaku, menyebabkan eskalasi cepat melalui reply berantai.

Di kolom komentar, perdebatan sering masuk preventable cluster—satu reply yang emosional atau sarkastik memicu respons serupa dari pihak lain, menciptakan thread panjang yang viral.

Algoritma mempercepat proses ini, membuat opini minoritas terasa mayoritas dan sebaliknya, hingga membentuk echo chamber.

Penelitian terkini menunjukkan SCCT relevan dengan tools AI untuk monitoring real-time, membantu mendeteksi potensi eskalasi sebelum menjadi krisis penuh.

Dampak dari perdebatan panas ini luas. Secara individu, peserta debat sering mengalami stres emosional, kehilangan teman online, atau bahkan ancaman pribadi.

Bagi brand atau influencer, satu thread komentar bisa rusak reputasi—misalnya kontroversi kesehatan minuman manis yang memicu banjir kritik terhadap sponsor terkait.

Lebih besar lagi, ini memperburuk polarisasi masyarakat: isu sederhana seperti makanan atau hiburan berubah jadi debat ideologi, memperkuat perpecahan kelompok.

Di Indonesia, kasus serupa sering muncul pada topik sensitif di mana reply awal yang biasa eskalasi karena interpretasi berbeda, memengaruhi opini publik secara nasional.

SCCT modern menyarankan pencegahan melalui respons proaktif: diminish (kurangi persepsi konflik dengan klarifikasi netral), rebuild (bangun ulang dialog melalui empati), dan hindari strategi deny yang malah memicu backlash lebih hebat.

Praktisi kini gunakan AI untuk analisis sentimen, mendeteksi dini thread yang berpotensi panas.

Bagaimana menerapkan kebijaksanaan saat berkomentar atau reply?

Pertama, gunakan filter THINK: True (benarkah faktanya)? Helpful (membantu diskusi)? Inspiring (menginspirasi)? Necessary (perlukah dibalas)? Kind (baik hati dan sopan)?

Kedua, pause sebelum reply—baca ulang konteks, hindari asumsi, dan tunda jika emosi sedang tinggi.

Ketiga, fokus pada argumen konstruktif: "Saya paham pendapatmu, tapi dari sisi ini...".

Keempat, jika debat memanas, pilih withdraw atau redirect ke diskusi positif.

Kelima, sebagai poster, moderasi komentar dengan hide atau delete yang toksik, atau pin reply netral untuk arahkan tone.

Platform juga bertanggung jawab: tingkatkan fitur moderasi otomatis, promosi thread positif, dan edukasi pengguna tentang etika reply.

Namun, perubahan utama ada pada kita—setiap reply adalah kesempatan membangun atau merusak.

Penutup

Di dunia digital yang saling terhubung pada akhir 2025, SCCT mengingatkan bahwa kolom komentar bukan sekadar ruang bebas—satu reply impulsif bisa memicu krisis preventable yang mempolarisasi semua pihak.

Dengan bijak menanggapi, kita bisa ubah debat panas jadi diskusi bermakna, melindungi reputasi pribadi dan harmoni sosial.

Mulai sekarang, THINK sebelum reply: satu respons tenang bisa redakan api, sementara yang emosional bisa bakar semuanya.

Media sosial adalah cermin interaksi kita—mari buat ia mencerminkan dialog yang dewasa, toleran, dan produktif.

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:01
05:20
03:42
28:51
12:19
16:55

Viral