news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Soeharto tengah beristirahat di tengah-tengah kunjungannya ke daerah.
Sumber :
  • Buku 'Pak Harto, The Untold Stories'

Jejak Pak Harto Dalam Dua Film Tentang Peristiwa 1 Maret 1949  

Tak tercantumnya nama Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto, memicu polemik antara politisi Gerindra Fadli Zon dengan Menkumham Mahfud MD
Sabtu, 12 Maret 2022 - 15:54 WIB
Reporter:
Editor :

"Tiga tahun belakangan ini, tvOne memang setiap dua pekan sekali menayangkan film perjuangan, dengan banner "Jas Merah" (Jangan Melupakan Sejarah)," sambung Reva, Jumat (11/3/2022) malam. 

Pakar telematika Roy Suryo juga menyoal penghilangan nama Pak Harto dalam sejarah serangan umum 1 Maret 1949. Mantan Menteri Pemuda & Olahraga itu yang pertama kali mengingatkan di akun twitternya minggu lalu mengenai  peran Soeharto yang tidak hanya muncul dalam film yang diproduksi di masa Orde Baru. 

"Taruhlah dalam film "Janur Kuning" peran Pak Harto dilebih- lebihkan  karena dibuat di masa beliau berkuasa. Tapi menghilangkan sama sekali peran beliau, jelas itu penggelapan sejarah. Karena peran Pak Harto nyata. Nonton Film Enam Djam di Jogja” yang dibuat tahun 1951. Waktu  itu Pak Harto belum punya posisi penting dalam pemerintahan. Film itu jelas menyebut perannya. Malah,  hanya Pak Harto dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang disebut," papar Roy Suryo  Jumat (11/3/2022) malam ketika saya hubungi. Tak lupa dia  mengirimkan link film tersebut di YouTube. " Mas lihat di menit ke 30," sambungnya. 

Tersimpan utuh di Sinematek

Kepala Sinematek Indonesia, Akhlis Suryapati yang dihubungi Jumat, menyatakan copy film "Enam Djam di Jogja” masih tersimpan rapi di lembaganya.  Dia pun mengirimi saya rekaman bagian yang menyebut nama Pak Harto dalam dua versi film hitam putih dan versi berwarna. 

Dalam film "Enam Djam di Jogja" jelas nama Soeharto dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX masing -masing disebut dua kali. Rinciannya berikut. 

Pada menit ke 30.20 "Pak Harto sudah mengerti, segala sesuatu yg sudah saudara-saudara ajukan itu”, kata pemeran dalam film kepada kawan-kawannya. 

Berikutnya pada menit  ke 58.01. "Saya baru saja kembali dari rapat WK-102, untuk menerima perintah dari Kolonel Letnan Soeharto, guna mengadakan serangan umum terhadap Jogja”.

Adapun Sri Sultan Hamengkubuwono disebut  pada menit  ke 36.31 "Yang saya maksud di sini  ialah, bahwa Sri Sultan sekalipun menyatakan persetujuan, malah menganjur-nganjurkan”.

Pada menit ke 36.39 " Kalau Sri Sultan setuju, ya kita juga setuju”.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:05
01:27
12:44
15:36
06:26
05:03

Viral