- tim tvonenews.com
Santri
Walhasil, tak bisa disangkal, kebangkitan kelompok Islam, booming santri belakangan ini menggerus segmen masyarakat abangan (meminjam kategorisasi dari Clifford Geertz). Terjadi santrinisasi kelompok abangan di Pulau Jawa.
Kang Damadi, security di komplek perumahan saya, misalnya kini rajin sholat berjamaah di masjid. Ia yang tadinya mengisi waktu dengan main dan ngobrol di pos ronda, sekarang makin rajin mengenakan peci dan koko, sibuk menonton kajian dari telepon genggamnya saat berjaga.
“Wah rajin sholat sekarang Kang?” sapa saya ketika bertemu dengannya di tempat wudhu masjid tak jauh dari rumah.
“Iya, mau apa lagi sekarang, Pak. Sudah waktunya,” ujar Kang Damadi sambil bergegas berusaha mencari shaf paling depan.
Ada jutaan Kang Damadi di pedesaan-pedesaan di seantero Jawa. Nampaknya, orang Jawa yang tadinya beragama secara sinkretik (memadukan banyak kepercayaan) kini telah menerima Islam secara lega lila. Tak hanya percaya Gusti Allah saja, tetapi juga menjalankan syariat-syariatnya.
(Dok. Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka pada perayaan Hari Santri Nasional. Sumber: ANTARA)
Dalam konteks global, ketakutan atas kebangkitan politik Islam memang masih terus didengungkan. Kita ingat dalam konteks internasional, pada alaf baru (abad 21) masih muncul pandangan ilmuwan Barat yang merendahkan praktik politik Islam.
Guru Besar Ilmu Politik Universitas Harvard Samuel P Huntington misalnya menyebut konsep konsep politik Islam bertentangan dengan premis demokrasi. Bahkan Huntington menulis Clash of Civilizations dalam jurnal Foreign Affairs pada 1993. Tesis Huntington Barat akan berbenturan dengan Islam setelah era Perang Dingin selesai.
Kini ramalan Huntington terbukti salah. Di Indonesia, praktik politik Islam toh bisa senafas dengan demokrasi modern. Suara yang mempertentangkan Islam dengan demokrasi hanya kaset sember yang tak nyaman lagi diputar di era kini, ketika keislaman dan keindonesiaan sudah diterima sebagai sesuatu yang sah dan wajar.
Demokrasi sudah diterima sebagai kenyataan universal oleh pemimpin muslim di Indonesia. Islam dan negara hubungannya sangat harmonis seperti pengantin baru. Hampir semua partai yang berlaga di Pemilu 2024 misalnya mengklaim mewakili dan akan memperjuangkan aspirasi umat Islam.