- istimewa
Power Soekarno Kendor, Soeharto Ambil Alih Kekuasaan, 500 Ribu PKI Langsung Dibantai Tanpa Ampun
Jakarta - Sosok Presiden RI ke-2 Soeharto merupakan orang yang benar-benar kontroversial.
Power Soekarno Kendor, Soeharto Ambil Alih Kekuasaan, 500 Ribu PKI Langsung Dibantai Tanpa Ampun
Bukan tanpa alasan label kontroversial itu diberikan, hal itu karena Soeharto adalah satu Jenderal TNI yang saat itu selamat pada peristiwa berdarah G30S PKI.
Presiden RI ke-2 Soeharto. (Ist)
Adapun Seoharto yang dijuluki The Smiling General itu selamat dari incaran pasukan Cakrabirawa yang membantai sejumlah para petinggi TNI kala itu.
Namun, timbul banyak pertanyaan terkait Soeharto yang bisa lolos dari tragedi berdarah itu.
Sejumlah pihak pun tak sedikit yang berpendapat bahwa sebenarnya Soeharto-lah yang berada di balik peristiwa G30S PKI itu.
Namun, benarkah begitu?
Teori keterlibatan Soeharto di peristiwa berdarah G30S PKI itu didukung sebuah pertanyaan sederhana: Mengapa Soeharto tidak ikut diculik dan dibunuh oleh PKI seperti jenderal-jenderal lainnya?
Kala itu, pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto menyiarkan kabar sampai ke sekolah-sekolah di Indonesia dengan menyebut bahwa PKI adalah biang kerok peristiwa berdarah itu terjadi.
Namun seiring waktu, penculikan dan pembunuhan para jenderal pada 1 Oktober 1965 tak bisa dilihat sebagai kesalahan tunggal PKI.
Peristiwa G30S PKI terjadi akibat kabar burung yang mengatakan adanya sekelompok jenderal atau Dewan Jenderal yang hendak mengudeta Presiden Soekarno.
Peter Kasenda dalam Kematian DN Aidit dan Kejatuhan PKI (2016) menulis, PKI mendapat informasi tersebut dari rekan mereka di militer yang merupakan simpatisan PKI.
Dedengkot PKI, DN Aidit. (ist)
Pada tahun 1965, militer pecah menjadi beberapa faksi yang saling memperebutkan pengaruh dan kekuasaan.
Di antaranya, sebagian kecil menjadi simpatisan PKI, partai yang pada saat itu merupakan salah satu partai politik terbesar.
Kader-kader PKI sukses menduduki kursi dewan dan kursi pejabat.
Namun ada faksi-faksi yang justru anti terhadap PKI.
Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, negara-negara pemenang silih bersaing memperebutkan pengaruh.
Di berbagai negara, persaingan yang dikenal dengan 'perang dingin' ini membelah dunia menjadi dua.