- Taufiq Hidayah
Kuncen Gunung Guntur: Gibran “Disembunyikan” di Gua Curug Cikoneng
Dia pun akhirnya mengakui sebagai orang pertama yang menemukan korban.
“Ya saya orang pertama yang menemukan Gibran, bahkan saat Gibran keluar dari Gua Curug Cikoneng. Kemudian dia terduduk di bebatuan, ya saya yang hampiri. Kemudian saya dari situ bawa perbekalan nasi sama minum, saya kasih dia untuk dimakan," kata Ade lagi.
Ade pun menceritakan kondisi Gibran saat pertama kali terlihat lagi.
"Ya pertama keluar gua, terus duduk, saya panggil namanya Gibran, tapi dia terdiam masih duduk, saya pegang foto Gibran makanya saya tahu wajahnya. Tapi saya gak ajak dia bicara dulu, karena kaya masih nempel 'itu' (makhluk)-nya, mulutnya Gibran seolah masih terkunci," kata Ade sambil mengingat kembali pengalamannya.
Usai diberi makan, Mang Ade berupaya menghubungi camp pos jaga Gunung Guntur, tetapi sayang sinyal ponsel Mang Ade sulit mendapatkan jaringan karena berada di gunung. Mang Ade kemudian mengirimkan voice note ke temannya di pos untuk meminta bantuan evakuasi. Pesan suara itu terkirim begitu ponselnya menerima sinyal.
“Halow ieu korban ketemu meluncur ka Curug Cikoneng halow halowww (halo ini korban ketemu, meluncur ke Curug Cikoneng), nah kemudian hp yg tadi saya hubungi lewat voice note WA diterima sama Mamat RW, terus mamat RW manggil Kapolsek," tambah Ade.
Sebelum rombongan Mamat tiba ke lokasi, ada teman mang Ade yang sampai duluan yaitu Deni. Dia melihat mang Ade membopong Gibran. Mereka kemudian bertemu enam orang berseragam polisi, yakni rombongan Bripda M Septian.
"Ya dipangku (digendong) Deni ada polisi yang lanjutkan gendong Gibran ke bawah," Ade bercerita sambil menunjukkan videonya.
Ade mengungkapkan ada sosok makhluk di luar nalar dalam insiden hilangnya Gibran. Dia mengaku pernah mengalami kejadian serupa beberapa tahun lalu.’
“Saya pernah kaya Gibran, padahal saya orang sini. Beberapa tahun ke belakang saya hilang, kata keluarga. Hilangnya 7 hari, padahal seingat saya yang dialami cuma sehari itu pun yang saya rasa masih siang. Kemudian saya berhasil pulang ke rumah kata keluarga kamana wae saminggu (kemana saja se minggu), ya saya jawab seminggu gimana, sahari ah," terang mang Ade.