- Istimewa/Tangkapan Kanal Youtube Kemenag RI
Peringatan Hari Santri, Menag Yagut Ajak Bela Agama
“Di tempat lainnya sama. Santri selalu terlibat aktif dalam peperangan melawan penjajah,” sambung Menag menuturkan.
Selain itu, Menag Yaqut juga mengingatkan pada masa ketika Indonesia sudah memproklamirkan diri sebagai negara yang merdeka. Pada saat itu, ia katakan, santri juga tidak absen.
Disebutkannya, KH. Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid, adalah salah satu santri yang terlibat secara aktif dalam pemerintahan di awal-awal kemerdekaan.
"Dialah, bersama santri-santri, dan tokoh-tokoh agama lainnya turut memperjuangkan kemaslahatan umat agama-agama di Indonesia," ujarnya.
Bahkan, ia katakan, pascakemerdekaan Indonesia, santri juga lebih semangat lagi memenuhi panggilan Ibu Pertiwi. Mereka tidak asyik dengan dirinya sendiri, tetapi terlibat secara aktif di dunia perpolitikan, pendidikan, sosial, ekonomi dan ilmu pengetahuan, selain juga agama.
“Catatan sejarah ini menunjukkan bahwa santri dengan segala kemampuannya bisa menjadi apa saja. Sehingga mengasosiasikan santri hanya dengan bidang ilmu keagamaan saja tidaklah tepat. Santri sekarang telah merambah ke berbagai bidang profesi, memiliki keahlian bermacam-macam, bahkan mereka menjadi pemimpin negara,” pungkas Gus Men.
Meski bisa menjadi apa saja, ia meminta santri tidak melupakan tugas utamanya. Yakni menjaga agama. Ia juga sebutkan, santri selalu mengedepankan nilai-nilai agama dalam setiap perilakunya.
"Bagi santri, agama adalah mata air yang selalu mengalirkan inspirasi-inspirasi untuk menjaga dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan," katanya.
Sambungnya menjelaskan, menjaga martabat kemanusiaan atau hifdzunnafs adalah salah satu tujuan diturunkannya agama di muka bumi (maqashid al-syariah).
Bahkan, ia tegaskan, tidak ada satu pun agama yang menyuruh pemeluknya untuk melakukan tindakan yang merusak harkat dan martabat manusia.
"Sebagai insan yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai agama, santri selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,” pungkas Yaqut.
Lanjutnya menuturkan, santri harus senantiasa berprinsip bahwa menjaga martabat kemanusiaan adalah esensi ajaran agama. Apalagi, ia ingatkan, di tengah kehidupan Indonesia yang sangat majemuk. Bagi santri, harus menjaga martabat kemanusiaan juga berarti menjaga Indonesia.
"Peringatan Hari Santri bukanlah milik santri semata. Hari santri adalah milik semua komponen bangsa yang mencintai tanah air, milik mereka yang memiliki keteguhan dalam menjunjung nilai-nilai kebangsaan," pungkasnya. (Aag)