- Istimewa
Siswi SMKN 2 Garut Menangis Usai Dipotong Rambutnya, Gubernur KDM Bingung Dengar Penjelasan Sekolah
Ia menyebut tak sepatutnya para siswi terkena sanksi pemotongan rambut yang ditengarai penggunaan kosmetik berlebihan.
"Oke kosmetiknya berlebihan, mungkin orang tuanya kaya.Gini argumentasinya apa sih, problemnya apa sih. Penampilan terlalu menor kan tinggal diingatkan," kata Dedi Mulyadi.
Selain itu, Dedi Mulyadi turut mempertanyakan mengenai teguran kepada wali murid dari pihak sekolah sebelum sanksi pemotongan rambut tersebut.
Ia meminta agar pihak sekolah dapat membangun komunikasi dengan orang tua atau wali murid sebelum memberikan sanksi pendisiplinan.
"Tapi ada teguran tertulis enggak yang ditujukan kepada orangtuanya? Kan anak masih di bawah perwalian," kata KDM.
"Dibiasakan guru memberikan teguran kepada orang tua, diberi tahu bahwa anak itu berpenampilan terlalu menor," sambungnya.
Alhasil, sang Guru BK pun mengakui jika sanksi tersebut tak murni soal pendisiplinan di lingkungan sekolah.
Sang Guru BK mengaku di depan Dedi Mulyadi jika kondisi psikologisnya sedang tak stabil.
Hal itu ditengarai banyaknya aduan hingga tekanan terkait aturan penampilan murid di sekolah hingga dirinya mengambil keputusan yang kontroversi dengan memberi sanksi pemotongan rambut terhadap sejumlah siswi.
Guru BK itu pun mengakui kesalahannya di depan Dedi Mulyadi hingga membuat trauma para siswi yang terkena sanksi pemotongan rambut tersebut.(raa)