- Istimewa
Tobat Ekologis dan Seruan Kesadaran Kolektif, Doa Lintas Iman di Gunung Padang Gaungkan Harmoni dengan Alam
Jakarta, tvOnenews.com - Tobat ekologis menjadi konsep yang semakin relevan di tengah meningkatnya krisis lingkungan global. Istilah ini merujuk pada perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam, bukan sekadar sebagai sumber daya, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang harus dijaga bersama.
Secara universal, tobat ekologis dimulai dari kesadaran bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini merupakan dampak dari aktivitas manusia. Krisis iklim, pencemaran, hingga hilangnya keanekaragaman hayati tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan akumulasi dari pola hidup yang eksploitatif.
Kesadaran tersebut kemudian mendorong perubahan orientasi berpikir. Manusia tidak lagi ditempatkan sebagai pusat yang bebas mengeksploitasi alam, tetapi sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Pergeseran dari pola pikir antroposentris menuju ekosentris menjadi inti dari transformasi ini.
Namun, tobat ekologis tidak berhenti pada kesadaran dan perubahan cara pandang. Aksi nyata menjadi kunci utama, mulai dari gaya hidup sederhana, pengurangan konsumsi berlebihan, hingga keterlibatan dalam upaya pelestarian lingkungan.
Lebih jauh, konsep ini juga menekankan pentingnya keadilan antargenerasi, yaitu memastikan bahwa generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap lingkungan yang sehat dan layak huni.
Doa Lintas Iman di Gunung Padang
Di tengah meningkatnya ancaman bencana alam dan perubahan iklim, seruan tobat ekologis diwujudkan dalam sebuah ikhtiar spiritual di kawasan Gunung Padang, Jawa Barat, Rabu (22/4/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Bumi.
Kegiatan doa lintas spiritualitas ini dipusatkan di Teras 5 Gunung Padang, melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, insan pers, hingga komunitas lingkungan.
Inisiator kegiatan, Dar Edi Yoga, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk refleksi mendalam terhadap hubungan manusia dengan bumi.
“Kami tidak datang untuk meminta, tetapi untuk bersujud dalam syukur dan kesadaran. Ini adalah seruan tobat ekologis,” ujarnya.
Bumi Bukan untuk Dieksploitasi
Menurut Yoga, kerusakan alam yang memicu berbagai bencana tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mencerminkan cara manusia memperlakukan lingkungan.
Ia menilai bahwa manusia mulai menjauh dari nilai keseimbangan, sehingga alam merespons melalui berbagai bentuk krisis.