- Antara
IHSG Anjlok 3,38 Persen ke 7.129, Investor Asing Kabur dan Sentimen Global Tekan Pasar
Rupiah Melemah, Tekan Sentimen Investor
Dari dalam negeri, tekanan terhadap IHSG anjlok semakin diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah. Dalam sepekan terakhir, rupiah terus berada di atas Rp17.000 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh level Rp17.300.
Kondisi ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia sepanjang tahun berjalan.
Depresiasi rupiah mendorong arus keluar dana asing dari pasar domestik, terutama karena imbal hasil obligasi Amerika Serikat yang lebih menarik bagi investor global.
Akibatnya, tekanan terhadap IHSG semakin besar dan mempercepat tren saham IHSG anjlok.
Fitch Turunkan Outlook, Sentimen Makin Negatif
Sentimen negatif semakin dalam setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan prospek kredit empat bank besar Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Bank yang terdampak antara lain:
-
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI)
-
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI)
-
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
-
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI)
Penurunan outlook ini memperkuat kekhawatiran investor terhadap stabilitas sektor keuangan nasional.
Selain itu, Fitch juga menyoroti risiko defisit fiskal Indonesia yang berpotensi melampaui batas aman 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Minim Katalis, Investor Beralih ke Aset Aman
Di tengah tekanan tersebut, pasar juga dihadapkan pada minimnya sentimen positif domestik. Aksi ambil untung pasca pembagian dividen turut mempercepat tekanan jual.
Investor pun mulai melakukan rotasi ke aset safe haven, meninggalkan pasar saham yang dinilai lebih berisiko dalam kondisi saat ini.
Hal ini semakin memperjelas bahwa IHSG anjlok dipicu kombinasi faktor global, domestik, dan psikologis pasar.
IHSG Berpotensi Uji Level 7.000
Analis menilai bahwa meskipun IHSG anjlok tajam, indeks masih bertahan di atas level psikologis 7.000. Namun, risiko penurunan lanjutan tetap terbuka lebar.
Jika tekanan berlanjut dan IHSG menembus level support di kisaran 6.900, maka potensi pelemahan lanjutan akan semakin besar.
Untuk pekan depan, pasar akan mencermati sejumlah sentimen penting, termasuk keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat dalam agenda FOMC Meeting.