- Antara
Libur Lebaran Saatnya Manjakan Lidah dengan Sensai Minum Kopi Berumur Satu Abad di Kota Semarang
Pendekatan tersebut menjadikan kunjungan tidak hanya sebagai aktivitas membeli kopi, tetapi juga pengalaman edukatif bagi penikmat kopi.
“Kami hanya mengenalkan. Soal tertarik atau tidak, itu kembali ke masing-masing,” ujar Dharma.
Ia menyebut edukasi menjadi bagian penting dalam membangun pemahaman terhadap kopi, baik bagi pekerja maupun pengunjung.
“Awalnya tidak tahu, tapi belajar dari pengalaman. Sekarang mereka (barista) malah lebih pintar dari saya,” kata Dharma.
Dharma juga mengungkapkan bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap kopi turut dipengaruhi oleh budaya populer, seperti film “Filosofi Kopi” yang memperluas ketertarikan publik.
Setiap hari, ia bersama timnya melakukan uji rasa dan pencampuran untuk menjaga konsistensi kualitas produk.
“Kami selalu mencoba kopi yang kami jual dan melakukan blending,” ujarnya.
Ia memandang kopi sebagai bentuk seni yang tidak memiliki standar tunggal dalam penilaian rasa.
“Kopi itu seni yang tidak ada habisnya. Tidak ada yang paling enak karena setiap orang punya selera sendiri,” kata Dharma.
Saat ini, produksi Dharma Boutique Roastery masih dalam skala kecil dengan kapasitas harian yang belum mencapai satu kuintal. Dharma mengatakan usahanya pernah melakukan ekspor, tapi terhenti akibat krisis ekonomi global dan perang dunia.
“Kami masih kecil,” ujarnya.(ant/raa)