- Istimewa
Politikus PDIP Kunjungi Kedubes Iran, Sampaikan Belasungkawa dan Ingatkan Semangat Konferensi Asia-Afrika
Jakarta, tvOnenews.com – Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Yulius Setiarto, mengunjungi Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Senin (9/3/2026) untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Yulius mengatakan kunjungan tersebut merupakan bentuk penghormatan dan solidaritas kemanusiaan kepada rakyat Iran, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Dalam pertemuan tersebut, Yulius juga menyinggung kedekatan pemikiran antara Ali Khamenei dan Presiden pertama Indonesia, Soekarno.
Menurutnya, keduanya memiliki kesamaan pandangan mengenai semangat antikolonialisme, solidaritas bangsa-bangsa berkembang, serta penolakan terhadap dominasi kekuatan besar dalam politik internasional.
“Ibu Megawati Soekarnoputri juga pernah mengingatkan bahwa Ayatullah Ali Khamenei sejak muda mengagumi pemikiran Bung Karno. Semangat antikolonialisme, solidaritas dunia ketiga, dan keberanian menolak dominasi kekuatan besar menjadi titik pertemuan sejarah antara Indonesia dan Iran,” ujar Yulius.
Ia menilai hubungan Indonesia dan Iran tidak hanya lahir dari hubungan diplomatik antarnegara, tetapi juga memiliki kedekatan historis melalui pengalaman perjuangan bangsa-bangsa berkembang dalam mempertahankan kedaulatan di tengah tekanan geopolitik global.
Yulius juga mengaitkan momentum tersebut dengan semangat Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Bandung pada 1955.
Menurutnya, konferensi itu menjadi tonggak penting solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam memperjuangkan kedaulatan serta menolak politik kekuatan dalam sistem internasional.
“Kalau kita tarik lebih jauh, peristiwa ini justru mengingatkan kembali pada semangat Konferensi Asia-Afrika yang digagas Bung Karno. Intinya, bangsa-bangsa Asia dan Afrika tidak boleh tunduk pada politik kekuatan dan harus berdiri di atas prinsip kedaulatan,” katanya.
Yulius menegaskan semangat tersebut masih relevan untuk menghadapi dinamika geopolitik global saat ini.
Ia juga menyinggung sikap Tahta Suci Vatikan yang memandang konflik kawasan dengan keprihatinan mendalam dan secara konsisten menyerukan agar semua pihak menahan diri, mengedepankan dialog diplomatik, serta mengembalikan supremasi hukum internasional demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.