- Istimewa
Dampak Menakutkan bagi Indonesia Setelah Iran Tutup Selat Hormuz
Beirut, tvOnenews.com-Situasi memanas di Kawasan Timur Tengah, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dikerahkan menutup Selat Hormuz di tengah, kata Brigadir Jenderal IRGC Ibrahim Jabari pada Sabtu (28/2).
"Saat ini dilakukan penutupan Selat Hormuz oleh pasukan IRGC menyusul agresi terhadap Iran," kata Jabari kepada penyiar Al-Mayadeen.
Sebelumnya pada hari itu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangkaian serangan terhadap target Iran, termasuk Teheran, yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel dan juga menargetkan infrastruktur militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Perwakilan IRGC mengatakan bahwa Israel "salah perhitungan" dengan menyerang Iran.
Dengan mengutip pernyataan Kementerian Pendidikan Iran, Kantor berita ISNA melaporkan bahwa sekolah-sekolah di Iran telah ditutup atau untuk sementara beralih ke pembelajaran daring di tengah serangan AS dan Israel.
Penutupan Selat Hormuz berisiko memicu gangguan besar pasokan minyak di Timur Tengah yang dalam skenario terburuk dapat memicu resesi ekonomi global. Iran merupakan produsen minyak terbesar keempat dengan produksi sedikitnya di atas 3 juta barel per hari pada Januari.
Sementara negara pemasok minyak mentah dunia seperti Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab (UEA) yang berperan hingga 15% pasokan minyak global, berseliweran melewati Selat Hormuz.
Nah, jika Selat Hormuz ditutup, otomatis pasokan 15% minyak mentah dunia dari ketiga negara besar tersebut akan terganggu.
Belum lagi, produk Liquefied Natural Gas (LNG) yang dikirimkan melalui kapal juga menggunakan Selat Hormuz sebagai jalur transportasi strategis. Utamanya, sebanyak 20% pasokan LNG dunia dari UAE dan Qatar melewati Selat Hormuz akan terganggu.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengimpor minyak dan gas bumi (migas) sebesar US$ 36,27 miliar pada 2024, naik dari US$ 35,83 miliar pada 2023.
Impor migas sepanjang 2024 tersebut terdiri dari impor minyak mentah yang tercatat mencapai US$ 10,35 miliar, turun tipis dari US$ 11,14 miliar pada 2023. Kemudian, impor produk minyak seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) tercatat mencapai US$ 25,92 miliar, naik dari US$ 24,68 miliar pada 2023. (ant)