- Instagram @bem.ugm
Ketua BEM UGM Ungkap Motivasinya Surati UNICEF Hingga Beri Tamparan Keras Untuk Pemerintah Soal MBG
“Sejak awal mula MBG itu ada, dia telah melanggar konstitusi tentang mandatory spending anggaran pendidikan yang diperintahkan oleh Undang-Undang Dasar, bahwa pemerintah wajib mengalokasikan 20 persen, baik itu APBN maupun APBD untuk pendidikan,” jelasnya.
“Di 2026 ini, anggaran pendidikan kita itu fantastis, Rp757 Triliun. Klaimnya Prabowo itu terbesar sepanjang sejarah. Tidak keliru. Tapi kalau kita detilkan rinciannya kita akan temukan. Ternyata Rp223 Triliun dari Rp757 Triliun lebih dari 30 persen tidak untuk pendidikan. Tapi untuk badan gizi nasional, untuk program makan bergizi gratis. Ini melanggar konstitusi dan itu problem pertama,” sambungnya menjelaskan.
Berdasarkan penjelasannya, Tiyo Ardianto atas nama BEM UGM mengkritik keras kepada pemerintah Indonesia saat ini.
“Kita tidak lagi bicara soal pribadi, ini adalah sikap lembaga yang saya disana menjadi juru bicara teman-teman di UGM. Ini kritik kami BEM UGM kepada pemerintah Republik Indonesia hari ini,” pungkasnya.
Setelah dirinya mengirimkan surat kepada UNICEF, muncul pemberitaan bahwa Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor kode negara Inggris.
Dirinya juga mendapatkan pesan dari peneror yang menuduh Tiyo sebagai agen asing dan mencari panggung.
Meski begitu, ia tidak takut karena ia sudah memperhitungkan resikonya.
(kmr)