- Antara
Indonesia Ingatkan Ancaman Nuklir di Forum Perlucutan Senjata Jenewa, Sugiono Ungkit Keamanan Global Makin Berbahaya
Jakarta, tvOnenews.com — Pemerintah Indonesia melontarkan peringatan keras terhadap situasi keamanan global yang dinilai semakin berbahaya, dalam High-Level Segment Konferensi Perlucutan Senjata di Jenewa, Swiss.
Menteri Luar Negeri RI Sugiono menilai agenda perlucutan senjata dunia tidak hanya mandek, tetapi mulai bergerak mundur di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dalam pernyataannya, Sugiono menegaskan bahwa perlucutan senjata merupakan fondasi utama stabilitas internasional. Namun, dinamika global terkini justru memperlihatkan arah sebaliknya.
Ketidakpastian geopolitik, menurutnya, memberi tekanan besar terhadap multilateralisme dan kepatuhan terhadap hukum internasional, sehingga membuka peluang eskalasi konflik berskala luas.
Ia menyoroti berakhirnya Perjanjian New START kerangka pengendalian senjata antara dua negara pemilik nuklir terbesar dunia sebagai pukulan serius bagi arsitektur keamanan global.
Tanpa perjanjian tersebut, dunia kehilangan instrumen pembatas strategis yang selama ini menahan perlombaan senjata.
“Di tengah situasi ini, risiko salah perhitungan semakin meningkat,” ujar Sugiono, dalam keterangan resmi, Selasa (24/2/2026).
Indonesia juga menilai terdapat ketimpangan serius dalam rezim global nonproliferasi. Negara-negara tanpa senjata nuklir dinilai terus menjalankan kewajibannya, sementara kemajuan perlucutan senjata oleh negara pemilik nuklir berjalan sangat lambat.
“Perlucutan senjata nuklir justru terkesan opsional, di tengah upaya keras negara-negara non-senjata nuklir melakukan proliferasi,” ungkap Sugiono.
Karena itu, Indonesia mendorong langkah politik yang lebih tegas agar Konferensi Perlucutan Senjata kembali berfungsi sebagai forum perundingan utama dunia. Sugiono menekankan bahwa stabilitas global tidak dapat dibangun hanya melalui keseimbangan kekuatan militer.
“Keamanan sejati dibangun dari rasa saling percaya dan dialog” ujar dia.
Menutup pidatonya, Sugiono menyerukan agar forum tersebut menunjukkan ketahanan dinamis di tengah rivalitas global yang meningkat. Ia menegaskan perlucutan senjata bukan sekadar kewajiban legal, melainkan tanggung jawab etis komunitas internasional.
“Perlucutan senjata bukan hanya kewajiban hukum, tetapi juga keharusan moral demi masa depan dunia yang lebih aman dan damai,” tegas Sugiono.
Konferensi Perlucutan Senjata sendiri merupakan satu-satunya forum perundingan multilateral global di bidang perlucutan senjata yang berbasis di Jenewa, beranggotakan 65 negara termasuk lima negara pemilik nuklir.