- Istimewa
Anindya Bakrie: ABAC Meeting I 2026 Jadi Momentum Awal Integrasi kawasan Asia - Pasifik Guna Meningkatkan Arus Investasi dan Perdagangan
“Indonesia ekspor 250 miliar dolar AS setahun, Vietnam 500 miliar dolar AS per tahun. Jadi apa yang kita mesti lakukan untuk sama-sama, tidak bisa pemerintah sendiri dan tidak bisa juga
tentunya dunia usaha sendiri untuk meningkatkan ini semua,” kata Anin.
Sementara itu, Anggota ABAC sekaligus Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Kadin Indonesia Shinta W. Kamdani menambahkan bahwa Indonesia juga mengawal sejumlah agenda legacy, termasuk inisiatif karbon yang berkaitan dengan pembiayaan keberlanjutan serta memanfaatkan berbagai side event untuk mempromosikan peluang investasi dan perdagangan, termasuk bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Ini satu kesempatan yang bisa dioptimalkan untuk kerja sama antar-negara Asia Pasifik juga. Kami juga disini mengambil kesempatan kalau ada event seperti ini. Tentunya Indonesia lebih banyak bisa menarik dari sisi investasi maupun perdagangan," kata Shinta.
Lebih lanjut, Anggota ABAC Indonesia sekaligus Wakil Ketua Umum Bidang BUMN Kadin Indonesia Kartiko Wirjoatmodjo atau biasa disapa Tiko, menjelaskan bahwa pada jalur pembahasan keuangan terdapat empat fokus utama, yakni integrasi sistem pembayaran, pergerakan modal swasta, pengembangan mata uang digital, serta pembiayaan berkelanjutan dan inklusi keuangan.
"Dan di Indonesia, saya rasa untuk sustainable finance khususnya financial inclusion sangat maju ya. Karena kita punya program seperti KUR dan (PNM) Mekaar yang memang bisa jadi contoh untuk negara lain untuk poverty alleviation (mengentaskan kemiskinan),” kata Tiko.
Sementara itu Ketua ABAC 2026 Li Fanrong menekankan pentingnya tema ABAC 2026 yakni "Openness, Connectivity, Synergy" dalam lingkungan global saat ini. Menurut Li, tema ABAC ini ditujukan guna menjawab ketidakpastian global yang turut membayangi dunia usaha di kawasan Asia - Pasifik.
"Prinsip-prinsip ini bukanlah cita-cita abstrak, melainkan keharusan praktis untuk mempertahankan pertumbuhan, memperkuat rantai pasok, dan memastikan kawasan ini terus berfungsi sebagai penggerak kemakmuran ekonomi global," kata Li Fanrong.
Dengan mengusung tema "Openness, Connectivity, Synergy", komunitas bisnis se-Asia-Pasifik mempertegas komitmen mereka terhadap pasar terbuka dan integrasi kawasan. Inovasi kolaboratif pun diposisikan sebagai pilar utama demi mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.