- Taufik Hidayat/tvOne
Dari Lembah Tidar ke Istana, Sjafrie Sjamsoeddin dan Prabowo Kembali Disatukan di Panggung Politik
Jakarta, tvOnenews.com - Nama Sjafrie Sjamsoeddin kembali mencuat ke ruang publik. Menteri Pertahanan era Presiden Prabowo Subianto ini mulai disebut-sebut sebagai salah satu figur potensial calon wakil presiden (cawapres) pada Pilpres 2029. Bukan tanpa alasan, rekam jejak panjang Sjafrie di militer, birokrasi pertahanan, serta relasi personalnya dengan Prabowo menjadikannya sosok yang dinilai memiliki modal kuat, baik secara pengalaman maupun kepercayaan politik.
Di lingkaran Istana, Sjafrie dikenal bukan sekadar menteri teknokrat, tetapi figur lama yang telah melewati berbagai fase krusial sejarah bangsa bersama Prabowo. Persahabatan keduanya teruji sejak bangku Akademi Militer hingga masa-masa penuh tekanan pada era Reformasi 1998.
Dari Makassar ke Akmil: Lahir dari Keluarga Tentara
Sjafrie Sjamsoeddin lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, pada 30 Oktober 1952. Ia merupakan anak keenam dari 11 bersaudara dari pasangan Letkol TNI (Purn) Haji Sjamsoeddin Koernia dan Hamdana. Lingkungan keluarga militer membentuk karakter disiplin dan ketertarikan Sjafrie pada dunia kemiliteran sejak dini.
Tahun 1971, Sjafrie masuk Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (kini Akmil) dan lulus pada 1974. Ia satu angkatan dengan Prabowo Subianto dan Ryamizard Ryacudu, dua figur yang kelak sama-sama menjabat Menteri Pertahanan. Prestasinya menonjol karena meraih Adhi Makayasa, penghargaan bagi lulusan terbaik Akmil, sebuah predikat yang menjadi fondasi reputasinya sebagai perwira elite.
Karier Kopassus hingga Pengawal Presiden
Selepas lulus, Sjafrie bergabung dengan Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Ia menjalani berbagai penugasan lapangan strategis, mulai dari Timor Timur, Aceh, hingga Irian Jaya. Jabatan seperti Komandan Nanggala X Timor Timur, Komandan Nanggala XXI Aceh, hingga Dantim Maleo Irian Jaya memperkuat reputasinya sebagai perwira lapangan yang luwes namun tegas.
Kariernya semakin menanjak saat dipercaya menjadi Komandan Grup A Paspampres dan pengawal pribadi Presiden Soeharto. Posisi tersebut menempatkannya di pusat lingkar kekuasaan nasional pada masa Orde Baru. Dari sinilah Sjafrie dikenal sebagai figur dengan ketenangan tinggi, kemampuan manajerial, serta kedisiplinan dalam pengamanan tingkat negara.
Pangdam Jaya dan Prahara Mei 1998
Nama Sjafrie Sjamsoeddin lekat dengan peristiwa Mei 1998. Saat itu, ia menjabat sebagai Panglima Kodam Jaya, wilayah yang menjadi pusat kerusuhan nasional menjelang runtuhnya Orde Baru. Ketika aparat kepolisian tak lagi mampu mengendalikan situasi, tanggung jawab keamanan Jakarta diserahkan kepada Sjafrie.
Ia mengerahkan ribuan pasukan untuk mengamankan objek vital, sarana publik, serta jalur distribusi penting. Langkah-langkahnya dikenal tegas namun terukur, termasuk pengamanan jenazah mahasiswa Trisakti agar dapat diserahkan kepada keluarga secara layak. Dalam laporan Tim Gabungan Pencari Fakta dan Komnas HAM, Sjafrie tidak terbukti secara hukum atas tuduhan pelanggaran HAM berat pada periode tersebut.
Peristiwa 1998 menjadi fase sulit bagi banyak perwira, termasuk Sjafrie dan sahabatnya, Prabowo Subianto. Karier keduanya sempat meredup, namun hubungan personal mereka tetap terjaga. Inilah salah satu fondasi yang kini memperkuat posisi Sjafrie sebagai orang kepercayaan Presiden.
Bangkit di Dunia Sipil dan Pertahanan
Setelah era Reformasi, Sjafrie tetap berada di jalur strategis negara. Ia menjabat Kapuspen TNI, Sekjen Departemen Pertahanan, hingga Wakil Menteri Pertahanan periode 2010–2014. Di era pemerintahan berikutnya, ia dipercaya sebagai Asisten Khusus Menteri Pertahanan sebelum akhirnya dilantik sebagai Menteri Pertahanan pada 21 Oktober 2024 oleh Presiden Prabowo Subianto.
Pada Agustus 2025, Prabowo juga menganugerahkan pangkat Jenderal (Kehormatan) bintang empat kepada Sjafrie. Penganugerahan ini dipandang sebagai simbol kepercayaan politik sekaligus penghargaan atas dedikasi panjangnya di sektor pertahanan dan keamanan nasional.
Relasi Panjang dengan Prabowo: Dari Taruna hingga Kabinet
Relasi Sjafrie dan Prabowo bukan sekadar hubungan kerja, melainkan persahabatan lama sejak masa taruna Akmil. Keduanya dikenal memiliki karakter berbeda namun saling melengkapi. Prabowo dikenal tegas dan visioner, sementara Sjafrie dikenal tenang, sistematis, dan berhati-hati dalam mengambil keputusan.
Persahabatan ini diuji dalam berbagai situasi sulit, terutama pasca-1998 ketika keduanya berada dalam tekanan politik yang berat. Namun hubungan itu justru semakin solid, hingga akhirnya Prabowo mempercayakan jabatan strategis Menteri Pertahanan kepada Sjafrie saat menjabat presiden.
Masuk Bursa Cawapres 2029
Dengan latar belakang tersebut, nama Sjafrie kini mulai disebut dalam bursa calon wakil presiden 2029. Posisi sebagai Menteri Pertahanan, pengalaman lintas rezim, serta relasi personal dengan Prabowo menjadikannya figur yang dinilai memiliki stabilitas politik dan kapasitas teknokratik.
Sebagai tokoh senior dengan rekam jejak panjang di bidang pertahanan dan keamanan, Sjafrie juga dinilai mampu menjadi jembatan antara generasi militer lama dengan birokrasi modern. Di tengah dinamika geopolitik kawasan dan tantangan pertahanan nasional, figur seperti Sjafrie dianggap memiliki kredibilitas untuk mendampingi pemimpin nasional di tingkat strategis.
Profil Pribadi dan Kehidupan Keluarga
Di luar karier publik, Sjafrie dikenal sebagai sosok keluarga. Ia menikah dengan Etty Sudiyati dan dikaruniai dua anak, salah satunya Kolonel Inf Muhammad Benrieyadin Sjafrie. Dalam keseharian, Sjafrie dikenal berkomunikasi tenang, tidak meledak-ledak, dan memiliki gaya kepemimpinan yang lebih persuasif dibandingkan konfrontatif.
Ia juga menguasai bahasa Inggris dan memiliki latar pendidikan militer lengkap, mulai dari pendidikan komando, penerjun payung, hingga Lemhannas RI. Deretan tanda jasa nasional dan internasional turut memperkuat reputasinya sebagai perwira profesional.
Dengan rekam jejak panjang, persahabatan lama dengan Presiden Prabowo, serta posisinya sebagai Menteri Pertahanan aktif, Sjafrie Sjamsoeddin kini bukan hanya figur di balik layar kekuasaan, tetapi mulai dipandang sebagai salah satu nama serius dalam peta politik menuju Pilpres 2029. (nsp)