- tvOnenews.com/Rika Pangesti
Lama Diam, Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Akhirnya Ungkap Motif Pengeboman, Singgung Dendam hingga Perlakuan Teman
Jakarta, tvOnenews.com – Pelaku ledakan SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara, akhirnya mengungkap motif di balik aksi pengeboman pada November 2025 itu.
Polisi mengungkap, aksi ekstrem yang dilakukan seorang siswa berstatus anak berkonflik dengan hukum (ABH) berinisial F itu bukan terjadi tanpa sebab. Hasil pendalaman penyidik mengungkap, pelaku menyimpan luka batin yang cukup lama akibat perlakuan lingkungan sekolah.
Rasa sakit hati itu perlahan berubah menjadi amarah, hingga akhirnya meledak dalam bentuk aksi kekerasan yang membahayakan banyak nyawa. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Budi Hermanto, mengatakan ABH mengaku merasa terasing dan dikucilkan oleh teman-temannya di sekolah.
“Berdasarkan keterangan Anak, motif yang disampaikan adalah rasa sakit hati terhadap lingkungan sekolah, khususnya perlakuan dari sejumlah teman yang dinilai sering mengucilkan,” ujar dia, Kamis, 5 Februari 2026.
Tak berhenti disitu, ABH juga mengungkap pengalaman pahit yang dialaminya sejak masih duduk di bangku SMP. Ia mengaku kerap menjadi sasaran ejekan yang menyentuh ranah personal.
“Anak menerangkan bahwa sejak SMP kerap menjadi bahan ejekan, termasuk dipanggil dengan sebutan yang merendahkan karena lebih sering bergaul dengan teman perempuan, dan situasi serupa berlanjut saat SMA,” ujarnya.
Tekanan demi tekanan itu disebut membuat kondisi psikologis pelaku semakin rapuh. Polisi menyebut ejekan yang terus-menerus diterima ABH menyerang penampilan dan kondisi pribadinya.
“Perlakuan tersebut membuat Anak merasa marah dan tertekan karena serangan yang menyasar penampilan serta kondisi pribadinya. Atas dasar itu, Anak mengaku kemudian memutuskan untuk melakukan aksi pemboman di sekolah,” tutur dia.
Untuk diketahui, terdapat tujuh bom rakitan aktif yang dibawa F, pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Komandan Satuan Brimob Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Henik Maryanto menjelaskan, hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) menunjukkan ledakan terjadi di dua titik, yakni area masjid sekolah serta bank sampah.
“TKP masjid sekolah ditemukan dua bekas ledakan bom rakitan beserta sejumlah barang bukti seperti serpihan plastik, dua crater atau kawah ledak yang kami temukan, paku, potongan tas, serta komponen elektronik seperti switching rocker," ujar Henik dalam konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, Selasa, 11 November 2025.
Menurut Henik, bom di dalam masjid diduga diledakkan menggunakan pengendali jarak jauh atau remot. Dugaan itu diperkuat dari temuan perangkat elektronik dan rekaman CCTV yang memperlihatkan pelaku membawa benda mirip remot.
“Dapat disimpulkan di TKP pertama, bom dikendalikan dengan remot dan ledakan menimbulkan efek overpressure serta pecahan paku yang menyebabkan banyak korban luka,” kata dia.
Henik menuturkan, lokasi bom selanjutnya, yakni di area taman baca dan bank sampah sekolah. Di taman baca, polisi menemukan satu bom dalam kemasan kaleng minuman bersoda dengan sumbu bakar sebagai pemicu.
Sementara di area bank sampah, ditemukan empat bom rakitan lain. Dua diantaranya meledak tidak sempurna, sementara dua sisanya masih aktif dan berhasil diamankan tim Gegana.
“Untuk dua bom yang meledak, hanya bagian tutup casing yang hancur, sementara pipa utamanya masih utuh,” kata Henik.
Menurutnya, bom-bom di area bank sampah menggunakan sumbu bakar sebagai inisiator. Diduga dua bom yang tidak meledak karena sumbunya belum sempat dipicu oleh pelaku.
Total ada tujuh bom di lokasi. Dua di masjid dan lima di area taman baca serta bank sampah. Dari jumlah itu, empat meledak dan tiga berhasil diamankan dalam kondisi aktif.
"Tiga bom aktif sudah kami amankan di Markas Gegana Satbrimob Polda Metro Jaya untuk proses pemeriksaan lebih lanjut,” katanya.
Sebagai informasi, kejadian ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta saat melaksanakan shalat Jumat. Akibat kejadian ini, puluhan siswa harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis.
Berdasarkan informasi dari Direktur Utama Rumah Sakit Islam Cempaka Putih, dr. Pradono Handojo, sebagian besar korban mengalami gangguan pendengaran akibat tekanan ledakan yang cukup kuat.
Foe Peace Simbolon/VIVA