- YouTube
Reza Indragiri Bongkar Skenario Mengejutkan di Balik Misteri Kematian Diplomat Muda Arya Daru: Ada Dua Kemungkinan…
tvOnenews.com - Psikolog forensik Reza Indragiri angkat bicara terkait misteri kematian diplomat muda Kementerian Luar Negeri, Arya Daru Pangayunan (ADP), yang ditemukan tewas di Gondia Guest House, Menteng, Jakarta Pusat.
Dalam penjelasannya, Reza Indragiri memaparkan beberapa skenario kemungkinan penyebab kematian yang patut dipertimbangkan oleh publik dan pihak kepolisian.
Menurut Reza, dalam situasi kematian, secara umum ada empat kemungkinan utama: kematian alami, bunuh diri, kecelakaan, atau pembunuhan.
Dari hasil penelusuran dan data awal yang telah diumumkan oleh pihak Kompolnas dan kepolisian, Reza menyebutkan bahwa dua skenario dapat langsung dikesampingkan.
“Kalau saya menyimak apa yang disampaikan oleh Pak Arief Kompolnas barusan, tampaknya ada dua kemungkinan yang bisa kita tepikan. Kemungkinan almarhum meninggal dalam situasi alami sepertinya bukan,” ujar Reza dalam wawancara yang disiarkan di kanal YouTube Official iNews.
Ia menyebutkan kondisi korban yang ditemukan dengan kepala terlilit dua lapis, lakban dan plastik, sudah cukup untuk mengeliminasi kemungkinan kematian alami.
Kemungkinan kedua yang coba dieliminasi adalah kematian akibat tindakan orang lain.
Reza menyinggung bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan atau pergumulan di tempat kejadian perkara.
Bahkan, rekaman CCTV dan kondisi kamar yang terkunci dari dalam dinilai tidak menunjukkan aktivitas mencurigakan.
“Kalaulah plafon utuh, kamar terkunci dari dalam, tidak ada tanda-tanda kegaduhan, rekaman CCTV juga datar-datar saja, maka kemungkinan kematian akibat perbuatan orang lain boleh jadi bisa kita kesampingkan,” tambah Reza.
Namun, ia tak serta-merta menghapus dugaan pembunuhan dari daftar skenario.
Arief Wicaksono, Ketua Harian Kompolnas, sempat menyebut bahwa saat olah TKP dilakukan, hanya ditemukan sidik jari almarhum pada beberapa barang bukti, termasuk lakban.
Hal ini memperkuat dugaan bahwa tidak ada pihak ketiga yang masuk ke ruang pribadi Arya.
“Tambahan informasi yang dipasok Pak Arif justru memberikan dasar bagi saya untuk semakin kuat mengeliminasi kemungkinan bahwa almarhum meninggal akibat perbuatan orang lain,” kata Reza.
Dengan dua skenario yang dieliminasi, Reza menyisakan dua kemungkinan: kecelakaan atau bunuh diri.
Menurutnya, kecelakaan yang dimaksud adalah ketika seseorang melakukan aktivitas tertentu, namun tanpa disadari masuk ke dalam kondisi kritis akibat faktor yang tidak dapat dikendalikan.
“Ketika seseorang sudah dalam kondisi lemas, pasokan oksigen ke otak berkurang drastis. Maka kemampuan seseorang untuk menyadari situasi kritis yang sedang dihadapi juga akan menurun secara ekstrem,” jelasnya.
Hal ini, kata Reza, bisa menjelaskan mengapa tidak ada upaya dari Arya Daru untuk melepaskan plastik atau tali yang menjerat kepalanya.
Sedangkan pada skenario bunuh diri, Reza menjelaskan bahwa terdapat unsur niat dan perencanaan dari korban itu sendiri untuk mengakhiri hidupnya.
Berdasarkan pengamatan, jika kematian disebabkan karena penutupan saluran napas tanpa adanya keterlibatan orang lain, maka besar kemungkinan itu adalah keputusan pribadi.
“Bunuh diri adalah ketika seseorang punya kehendak untuk menyumbat pasokan oksigennya sendiri. Dalam kasus ini, tersumbatnya saluran napas bukan akibat perbuatan orang lain, tapi niat dari yang bersangkutan sendiri,” ujar Reza Indragiri.
Sementara itu, perwakilan Kompolnas, Arief Wicaksono menambahkan bahwa dari hasil penelusuran mereka, tidak ditemukan pihak lain yang bisa mengakses ruang paling pribadi milik Arya Daru.
“Yang bisa kami sampaikan saat ini, tidak ada orang lain yang bisa mengakses ruang privat almarhum. Selebihnya, kita menunggu paparan resmi dari Polda Metro Jaya,” pungkas Arief. (adk)