- Dok.Wikipedia
Dimana Presiden Soekarno saat Para Jenderal Diculik G30S PKI? Ini Kesaksian Para Pengawal Pribadinya
Mangil menyarankan sebaiknya Presiden Soekarno untuk sementara tinggal di Wisma Yaso, sambil menunggu laporan anggota DKP yang melakukan pengecekan kebenaran berita itu.
Dengan nada marah Presiden berkata, “Bagaimana mungkin, kejadian pukul 04.00, sampai sekarang belum kamu ketahui dengan jelas?”
Akhirnya setelah berdikusi, Presiden Soekarno memutuskan untuk tetap menuju istana. Di depan mobil Presiden ada satu jip DKP yang dilengkapi dengan radio telepon Lorenz jarak jauh.
Foto: Presiden Soekarno menerima Batalyon 454 pada perayaan untuk veteran pembebasan Irian Barat di Istana Negara, 19 Januari 1963.(Dok.Wikipedia)
Mobil Presiden dikemudikan oleh Mayor Suparto dan di sampingnya duduk Sudarso yang sudah dilengkapi dengan mini-talkie untuk hubungan jarak dekat antara mobil Presiden dengan mobil Mangil yang berada di belakangnya.
Rombongan melaju dengan kecepatan sedang. Ketika sedang melewati jembatan Dukuh Atas, masuk laporan bahwa pasukan Angkatan Darat yang berada di sekitar Istana “terasa sangat mencurigakan”.
Rombongan diperintahkan Mangil berbelok ke Jalan Kebon Sirih, akan tetapi karena terlanjur melewati perempatan Kebon Sirih, rombongan baru belok di Jalan Budi Kemuliaan.
Iring-iringan mobil bergerak sangat lamban, kadang-kadang berhenti agak lama, sebab semua lalu lintas ke Merdeka Barat dialihkan ke jalan tersebut.
AKBP Mangil memutuskan untuk membawa Presiden ke Kebayoran Baru. Namun kemudian, ada kontak dari Kolonel CPM Maulwi Saelan, Wakil Komandan Resimen Cakrabirawa, yang memerintahkan rombongan Presiden dibawa ke rumah Ny. Haryati di Grogol.
Pukul 07.00 Presiden Soekarno bersama pengawalnya tiba di Grogol. Kolonel Saelan melaporkan semua berita yang diterimanya dari Komisaris Besar Pol. Sumirat.
"Saelan minta agar Presiden sementara menunggu dulu, sambil mencari informasi untuk menentukan langkah-langkah berikutnya." tulis Lapian.
“Tetapi kita tidak bisa lama di sini”, kata Bung Karno, yang dijawab oleh Saelan bahwa “memang betul, Pak, dan sebagai alternatif kami akan mencari tempat lain.”
Setelah dirundingkan oleh Saelan, Mangil dan Letnan Suparto tentang cara menyelamatkan Presiden, diputuskan untuk pindah ke rumah di Jalan Wijaya, Kebayoran Baru, yang telah dipersiapkan oleh Mangil.