- Kolase tim tvOnenews.com/ REUTERS
Kaya dari Barang Ilegal, Inilah 7 Gembong Narkoba Tajir Melintir di Dunia, Termasuk di Indonesia?
Fuentes tewas usai menjalani sebuah operasi plastik pada 1997. Kedua dokter yang sempat melakukan operasi plastik terhadapnya dibunuh serta dibungkus menggunakan beton di dalam sebuah drum baja.
Ilustrasi Narkoba. (Ist)
Dawood Ibrahim Kaskar
Bos besar narkoba lainnya yaitu Dawood Ibrahim Kaskar yang telah menjadi buron oleh pihak kepolisian sejak 1993.
Kaskar sempat menempati posisi ketiga sebagai buronan yang paling dicari oleh FBI di seluruh dunia pada tahun 2011 dengan berbagai tuduhan.
Dawood Ibrahim Kaskar telah dituduh melakukan kejahatan, seperti terorisme, pembunuhan, dan perdagangan narkoba.
Dirinya merupakan pemimpin dari sindikat D-Company pada tahun 1970-an, sindikat tersebut telah merambah mulai dari Asia, menuju Eropa dan Afrika.
Kekayaan Dawood Ibrahim Kaskar diperkirakan mencapai sekitar US$6,7 miliar atau senilai Rp103,4 triliun. Ia merupakan anak dari seorang polisi India, hingga kini Kaskar masih melakukan kejahatannya dengan membangun jaringan dan mengumpulkan keuntungan.
Sebab hingga kini Dawood Ibrahim Kaskar masih berstatus sebagai buron.
The Ochoa Brothers
Ochoa bersaudara ini merupakan tiga di antara pendiri Kartel Medellin, Kolombia. Ketiga saudara tersebut bernama Jorge Luis Ochoa Vasquez, Juan David Ochoa Vasquez, dan Fabio Ochoa Vasquez.
Ochoa bersaudara ini diperkirakan memiliki kekayaan sekitar US$6 miliar atau Rp92,64 triliun. Tiga bersaudara ini merupakan di antara para pendiri Kartel Medellin bergabung dengan Pablo Escobar.
Ketiganya pernah menjadi sosok miliarder global yang tercatat oleh Forbes pada 1987. Kemudian tetap bertahan hingga pada tahun 1992.
Salah satu saudaranya, Jorge Luis Ochoa Vasquez menyerah dan ia ditangkap sekitar pada tahun 1991 serta menjalani hukuman selama 5,5 tahun penjara.
Sementara Juan David meninggal pada tahun 2013 dan Fabio telah ditangkap. Kini Fabio tengah menjalani hukuman selama 30 tahun penjara di Amerika Serikat.
Khun Sa
Khun Sa dulunya merupakan seorang pemimpin militer Shan. Pada akhir perang, ia melarikan diri ke Myanmar. Selama pelariannya tersebut, ia mulai merasakan sensasi dari opium dan menjual heroin serta mengawasi produksi obat-obatan tersebut di Asia Tenggara.
Atas perbuatannya mengoperasikan narkoba, ia meraup keuntungan senilai US$5 miliar atau Rp77,2 triliun. Namun, pada akhirnya ia pun menyerah kepada pemerintah Myanmar dengan harapan tidak akan diserahkan pada Amerika Serikat.