- Reuters
Trump Pecat Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem di Tengah Kontroversi Penembakan Warga AS dan Skandal Internal
Demokrat Sambut Baik Kepergian Noem
Sejumlah tokoh Partai Demokrat menyambut baik keputusan Trump untuk mencopot Noem dari jabatannya.
Pemimpin Minoritas DPR, Hakeem Jeffries, menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang tepat setelah berbagai kontroversi yang terjadi selama kepemimpinannya.
Menurut Jeffries, pergantian pejabat saja tidak cukup untuk memperbaiki masalah di Departemen Keamanan Dalam Negeri.
“Kami membutuhkan perubahan kebijakan yang berani, dramatis, dan benar-benar berarti,” kata Jeffries.
Senada dengan itu, Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, juga menyatakan skeptis terhadap perubahan yang terjadi di lembaga tersebut.
Menurutnya, persoalan di dalam DHS tidak hanya terkait individu yang memimpin, tetapi juga menyangkut arah kebijakan yang lebih luas.
Dukungan dari Republik Mulai Melemah
Di sisi lain, dukungan terhadap Noem dari Partai Republik juga mulai melemah dalam beberapa waktu terakhir.
Senator Lindsey Graham menyampaikan apresiasi atas pengabdian Noem, namun mengakui bahwa pergantian kepemimpinan di DHS mungkin memang diperlukan.
Ia menilai Noem masih dapat berkontribusi melalui peran barunya sebagai utusan khusus yang akan menangani isu keamanan regional dan jaringan kartel narkoba di kawasan Amerika.
“Namun saya pikir ini memang sudah waktunya untuk perubahan,” ujar Graham dalam pernyataannya.
Skandal Internal dan Laporan Hubungan Pribadi
Selain kontroversi kebijakan, Noem juga menghadapi sorotan terkait kondisi internal di Departemen Keamanan Dalam Negeri.
Sejumlah laporan menyebut adanya konflik internal serta dugaan hubungan pribadi antara Noem dan penasihat seniornya, Corey Lewandowski, yang juga mantan manajer kampanye Trump.
Keduanya dilaporkan sering bepergian bersama menggunakan pesawat jet mewah Boeing 737 Max yang dilengkapi kabin pribadi.
Pesawat tersebut bahkan disebut-sebut sedang diupayakan untuk dibeli oleh departemen dengan nilai sekitar 70 juta dolar AS untuk mendukung operasi deportasi berprofil tinggi.
Laporan lain juga mengungkap bahwa beberapa staf merasa mendapat tekanan, termasuk penggunaan tes poligraf terhadap pegawai yang dianggap tidak dipercaya oleh pimpinan.
Kontroversi Lain Ikut Disorot
Kontroversi seputar Noem juga semakin ramai setelah pengakuannya dalam sebuah buku memoar yang menyebut dirinya pernah menembak mati seekor anjing dan kambing miliknya sendiri.