- tim tvOne - Reuters
Saat Rusia-Ukraina Berperang, Jerman Beli 35 Jet F-35 dan 15 Jet Eurofighter
Jakarta - Pemerintah Jerman akan membeli 35 jet tempur F-35 AS untuk menggantikan jet tempur Tornado yang menua. Ini adalah kebijakan pertahanan terbesar yang pertama kali dilakukan menyusul pernyataan Kanselir Olaf Scholz yang menjanjikan peningkatan anggaran 100 miliar euro untuk militer.
Ini juga sebagai reaksi atas invasi Rusia ke Ukraina, demikian dilansir Reuters, Senin (14/3/2022).
Langkah itu tampaknya menjadi bagian dari pergeseran dalam kebijakan keamanan Jerman, termasuk janji untuk menekan target pengeluaran anggaran pertahanan bagi NATO sebesar 2 persen, setelah bertahun-tahun Jerman terlalu "jinak" terhadap Moskow sebagai kompensasi atas masa lalu Nazi-nya.
“Setelah melihat secara menyeluruh ke semua opsi yang tersedia, saya memutuskan untuk memulai pembelian pesawat F-35 sebagai pengganti Tornado dalam peran berbagi nuklir,” kata Menteri Pertahanan Christine Lambrecht dalam sebuah pernyataan.
Tornado adalah satu-satunya jet Jerman yang mampu membawa bom nuklir AS, yang disimpan di Jerman, jika terjadi konflik. Angkatan udara Jerman telah menerbangkan Tornado sejak tahun 1980-an, dan Berlin berencana untuk menghentikannya antara tahun 2025 dan 2030.
Sebagai gantinya, F-35 menawarkan peluang untuk bekerja sama dengan sekutu NATO dan mitra Eropa lainnya, kata Lambrecht, merujuk pada fakta bahwa banyak negara lain telah memesan jet siluman yang dibangun oleh Lockheed Martin (LMT.N).
Sebelumnya, sebuah sumber di pertahanan Jerman mengatakan kepada Reuters pada awal Februari bahwa Berlin cenderung membeli F-35 tetapi keputusan akhir belum diambil.
Berlin juga akan membeli 15 jet Eurofighter yang diperlengkapi untuk peperangan elektronik, kemampuan yang belum dikembangkan oleh produsen Prancis-Jerman Airbus (AIR.PA), menurut dokumen rahasia yang dikirim ke anggota parlemen untuk memberi tahu mereka tentang rencana pemerintah.
Pembelian F-35 akan menjadi pukulan bagi Boeing (BA.N), yang F-18-nya disukai oleh mantan menteri pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer untuk menggantikan Tornado. Keputusan itu juga bisa membuat Prancis kesal.
Paris memantau pertimbangan Jerman atas F-18 atau F-35 yang lebih canggih, karena khawatir kesepakatan dapat melemahkan pengembangan jet tempur gabungan Prancis-Jerman yang seharusnya siap pada tahun 2040-an.