- Istimewa
Arief Rahman Hakim
Saya melihat potret perjuangan yang tulus, gerakan moral yang murni, seruan nurani dari mahasiswa tanpa keinginan untuk menggantikan atau jadi bagian kelompok yang berkuasa. Saya kira lambang lain dari barisan ini adalah rekan Arief, Soe Hoe Ghie yang bersikap “lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”.
Kita agaknya perlu bersyukur punya tradisi perjuangan angkatan muda yang kental dalam setiap babakan sejarah. Arief dan Soe Hok Gie adalah wajah pemuda Indonesia yang berulang kali muncul dalam sejarah: wajah yang terlalu muda untuk mati, tetapi terlalu sadar untuk diam, sejak 1928, revolusi 1945, Angkatan 1966 hingga Angkatan 1998.
Tinggal kita-lah yang memaknai gugurnya pemuda seperti ARH. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa mengambil pelajaran, ibrah dari sejarah. Iran misalnya menjadi negeri besar karena menghormati para syuhada, martir yg kebanyakan pemuda. Wajahnya dipajang di pinggir pinggir jalan seperti baliho, ada banyak acara, kegiatan, upacara untuk mengenang kembali kiprah dan jasa para syuhada. Bagi bangsa yang mudah lupa akan dikutuk mengulangi kesalahan serupa. Tak heran jika pada 1998, kita kembali terantuk lubang sejarah yang sama: empat mahasiswa kembali gugur tertembak peluru yang dibeli warganya sendiri.
Saya kira, baik jika setiap Februari kita merevitalisasi makna gugurnya ARH bagi kemajuan bangsa ini. Karena sejujurnya, kita adalah bangsa yang mudah lupa. Ecep Suwardaniyasa