- Poppy Anasari
Blak-blakan, Anak dan Cucu DI Pandjaitan dan DN Aidit Cerita soal G30S PKI dari Sudut Pandang Masing-masing
tvOnenews.com — Sejarah kelam peristiwa 30 September 1965 masih menyisakan luka mendalam hingga kini. Namun generasi penerus dari dua pihak yang sama-sama terseret dalam tragedi itu keluarga Jenderal TNI Anumerta DI Pandjaitan dan keluarga elite Partai Komunis Indonesia (PKI) DN Aidit, sepakat tak ingin mewarisi konflik.
Dilansir dari BBC Indonesia, bagi cucu-cucu DI Pandjaitan, Sifra Panggabean (30) dan Samuel Panggabean (24), tragedi itu dikenang sebagai peristiwa kejam yang merenggut nyawa kakek mereka.
Sementara bagi Fico Fachriza, cucu Murad Aidit, adik DN Aidit yang juga dituding terlibat dalam G30S peristiwa itu justru memunculkan rasa kesal terhadap negara karena kakeknya ditahan tanpa pernah diadili.
- Dok. Film Pengkhianatan G30S PKI
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada 23 Juli 2012 menyebutkan tragedi 1965, yang menewaskan lebih dari 500.000 orang dan menyebabkan banyak lainnya ditahan tanpa pengadilan, sebagai pelanggaran HAM berat.
Kenangan Anak dan Cucu DI Pandjaitan
Sifra dan Samuel mengenal peristiwa G30S sejak kecil. Keluarga kerap mengajak mereka mengikuti upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya setiap 1 Oktober.
Dari situlah mereka tahu bahwa kakek mereka, DI Pandjaitan, adalah salah satu dari tujuh Pahlawan Revolusi.
Samuel masih ingat bagaimana ia kerap bertanya pada ibunya, Riri Pandjaitan, tentang alasan sang kakek harus mati begitu tragis.
- Tim tvOne - Tim tvOne
“Kenapa dia mesti meninggal? Kenapa mesti ditembak berkorban di tempat itu? Untuk apa?” kenangnya dilansir dari tayangan BBC Indonesia.
Jawaban sang ibu membuatnya mengerti bahwa kakeknya gugur demi Pancasila.
“Sejak itu saya bangga, saya teguh dalam hati, sebagai keturunan saya juga harus menjaga Pancasila ini,” kata Samuel.
Sang kakak, Sifra, menilai tragedi itu adalah sesuatu yang “hanya terjadi di Indonesia”. Baginya, pengorbanan tujuh jenderal adalah bukti cinta mereka terhadap Pancasila.
Riri, putri bungsu DI Pandjaitan yang kala itu masih berusia delapan tahun, masih menyimpan trauma.
Malam itu, rumahnya di Kebayoran Baru diterobos pasukan bersenjata. Ia menyaksikan ayahnya meminta waktu berdoa sebelum akhirnya dieksekusi.
“Darah kental itu kami lihat sendiri. Saya delapan tahun, nggak ngerti kenapa ayah saya dibunuh. Rusak jiwa saya,” tuturnya.
Meski trauma itu menghantui bertahun-tahun, Riri mengaku mendapat pemulihan melalui imannya. Ia belajar memberi pengampunan, meski tetap menolak ideologi komunisme.
Kisah Murad Aidit dan Cucu yang Marah pada Negara
- ist
Di sisi lain, kisah berbeda datang dari keluarga Aidit. Fico Fachriza, cucu Murad Aidit, pertama kali mengetahui soal peristiwa 1965 di sekolah dasar.
Ia bingung saat melihat kakeknya kerap difoto bersama Sukarno dan Mohammad Hatta, tapi kemudian namanya dikaitkan dengan PKI.
“Pas masuk bab PKI, kayaknya jahat banget PKI bunuh-bunuh jenderal. Saya tanya ke guru, kok bisa partai punya senjata buat bunuh jenderal? Gurunya nggak bisa jawab,” ucap Fico.
Rasa penasaran itu ia teruskan kepada ibunya, Poppy Anasari, putri Murad Aidit. Sang ibu menyarankan agar ia langsung bertanya kepada kakeknya. Dari Murad, Fico mendengar cerita yang jauh berbeda dari buku pelajaran.
Murad, menurutnya, tidak aktif berpolitik. Ia hanya aktif di komunitas seni, kemungkinan Lekra. Saat pulang dari Rusia, tempatnya menimba ilmu dengan biaya DN Aidit ia ditangkap begitu mendarat di Jakarta. Ia ditahan bertahun-tahun tanpa diadili.
“Kakek saya nggak salah, diadilin juga nggak. Cuma main ditahan-tahan aja. Pas terbukti nggak bersalah, nggak ada ganti rugi. Saya kesal sama negara,” ungkap Fico.
Luka Anak-anak yang Terpisah dari Orang Tua
- Poppy Anasari
Poppy Anasari, anak Murad Aidit, juga menyimpan kenangan getir. Hanya tujuh hari setelah lahir, ia ikut dibawa ke penjara bersama ibunya.
“Saya tapol termuda. Nyusu di sana sampai umur 40 hari,” kenangnya.
Masa kecilnya diwarnai perpisahan panjang dengan kedua orangtuanya. Hingga usia 15 tahun, ia baru bertemu lagi dengan mereka, yang semula diperkenalkan sebagai paman dan bibi.
“Hati kecil saya kesal karena kebersamaan itu direnggut. Siapa bisa ganti kerugian spiritual, material, kasih sayang yang hilang?” ujar Poppy.
Meski demikian, ia menegaskan tak lagi menyimpan dendam. Kini ia aktif dalam Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB), wadah yang mempertemukan anak-anak korban G30S dari berbagai pihak.
“Kita berhenti mewarisi konflik dan nggak buat konflik baru,” katanya.
Sama-sama Tak Mau Mewarisi Konflik
Baik keluarga Pandjaitan maupun Aidit sepakat, generasi setelah mereka tidak boleh lagi hidup dalam bayang-bayang kebencian. Sifra Panggabean menegaskan bahwa tragedi 1965 harus dipahami dalam konteks politik dan hukum saat itu yang belum matang.
Sementara Fico dan Poppy menekankan bahwa pelurusan sejarah penting, tapi rekonsiliasi jauh lebih utama.
Tragedi yang menelan ratusan ribu korban itu meninggalkan luka panjang. Namun suara generasi ketiga dari kedua belah pihak memberi harapan: masa lalu yang pahit tak harus diwariskan menjadi konflik abadi.